Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ini Cara Penentuan Awal Bulan Ramadan di Era Kolonial Belanda

Rizal Amrulloh • Jumat, 7 Maret 2025 | 00:47 WIB
PENGAMATAN: Petugas Rukyatul Hilal mengamati munculnya bulan di ufuk barat di atas masjid Darusalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, beberapa waktu lalu. (foto: Sofan Kurniawan)
PENGAMATAN: Petugas Rukyatul Hilal mengamati munculnya bulan di ufuk barat di atas masjid Darusalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, beberapa waktu lalu. (foto: Sofan Kurniawan)

PEMERINTAH melalui Kementerian Agama RI telah menetapkan 1 Ramadan 1446 Hijriah jatuh pada 1 Maret 2025.

Keputusan yang ditetapkan berdasarkan hasil sidang isbat ini menjadi rujukan masyarakat muslim dalam menjalakan ibadah puasa.

Metode rukyatul hilal untuk dijadikan sebagai penentu masuknya bulan suci ini telah dilakukan sejak masa kolonial.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, pemerintah tidak terlibat langsung dalam penetapan awal Ramadan saat era kolonial.

Tetapi, kata dia, penentuan bulan puasa ditentukan oleh tokoh agama dan organisasi keagamaan.

Disebutkannya, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi yang berdiri sebelum kemerdekaan RI telah menggunakan metode rukyah saat menentukan awal puasa.

’’Jadi, penentuan Ramadan dilakukan dengan melihat langsung munculnya bulan (hilal) di ufuk barat,’’ terangnya.

Sosok yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, metode rukyatul hilal ini masih dipertahankan hingga saat ini.

Hanya saja, praktiknya dahulu dilakukan dengan pandangan mata langsung. Sedangkan saat ini dilakukan dengan bantuan alat optik atau teleskop.

Seperti yang dilakukan di wilayah Kabupaten Mojokerto yang dilakukan di Masjid Agung Darussalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Jumat (28/2) lalu.

’’Metode ini yang juga dilakukan untuk penetapan bulan Syawal atau jatuhnya Hari Raya Idul Fitri,’’ paparnya.

Setelah masa kemerdekaan, pemerintah mulai terlibat langsung dalam penentuan awal Ramadan hingga sekarang.

Langkah itu dilakukan sebagai pijakan masyarakat di tanah air untuk mengawali ibadah bulan puasa.

Meskipun, dalam pelaksanaannya tidak jarang dilakukan dalam waktu berbeda maupun.

Yuhan mengatakan, hal itu tidak lepas dari penerapan metode penentuan awal bulan puasa.

’’Selain metode rukyatul hilal, ada juga yang menggunakan metode hisab,’’ tandas dia.

Meski demikian, perbedaan tersebut tidak mengurangi nilai ibadah saat bulan suci.

Terlebih, setelah era reformasi, sidang isbat dalam menentukan jatuhnya 1 Ramadan dilakukan secara terbuka oleh pemerintah. (ram/fen)

Editor : Martda Vadetya
#ramadan #kementerian agama #bulan suci #bulan #kolonial #teleskop #belanda #Isbat