Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Pejuang Bentengi Kemerdekaan hingga Garis Akhir Pertahanan, Pertempuran di Selatan Mojokerto Tahun 1949  

Rizal Amrulloh • Jumat, 17 Januari 2025 | 03:14 WIB

 

SIMBOL PERJUANGAN: Monumen perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Desa Kepuharum, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. (foto: Rizal Amrulloh/JPRM)
SIMBOL PERJUANGAN: Monumen perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Desa Kepuharum, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. (foto: Rizal Amrulloh/JPRM)

Di Desa Kepuharum, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, terdapat sebuah monumen penanda pernah terjai peristiwa bersejarah pada 12 Februari 1949.

Berdirinya tugu berupa peluru dan helm militer. Tugu ini merupakan lokasi pertempuran antara pejuang melawan tentara kolonial dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, monumen Kepuharum menjadi salah satu penanda peristiwa pertempuran di wilayah selatan Mojokerto.

Para pejuang di bawah Komando Hayam Wuruk menjadi benteng pertahanan dalam menjaga kedaulatan RI dari tangan Belanda.

Sosok yang akrab disapa Yuhan ini menjelaskan, peristiwa di Kutorejo tersebut bermula dari penyeragan di markas pejuang di Pacet pada 29 Januari 1949.

”Pasukan Belanda bergerak dari Kota Mojokerto menuju ke Pacet,” terangnya.

Upaya penghadangan dilakukan dengan membentuk benteng pertahanan di Desa Wiyu, Kecamatan Pacet.

Namun, garis pertahanan tersebut mampu ditembus serdadu kolonial yang menerjunkan kendaraan lapis baja dan serangan udara dengan pesawat.

”Karena amunisi terbatas, maka pejuang terpukul mundur dan Pacet jatuh ke tangan musuh,” tandas dia.

Dalam waktu dua pekan, wilayah Trawas dan Gondang juga mampu diduduki pasukan Belanda.

Karena posisi pejuang kian tersudut, maka pada 11 Febrari 1949 diputuskan untuk menyebar.

”Tujuannya, untuk memecah konsentrasi musuh,” ulasnya. Sayangnya, rencana tersebut gagal.

Karena tentara Belanda justru mengerahkan kekuatan penuh dengan tank dan panzer beserta pasukan infanterinya.

Meski sempat melakukan perlawanan, namun tak sedikit yang gugur akibat kalah persenjataan.

Pertempuran dalam mempertahankan kemerdekaan RI itu terjadi di  wilayah pertahanan terakhir pejuang di Kutorejo dan Dlanggu.

Bahkan, setelah itu, pasukan kolonial terus melakukan penyisiran dan menangkap para pejuang.

”Mayor Soetjipto yang dalam kondisi terluka ditawan di Desa Kepuharum,” papar Yuhan.

Meski kalah, momen tersebut menjadi peristiwa heroik dari para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan.

Untuk mengenangnya, di lokasi pertempuran lantas didirikan monumen.Salah satunya di Desa Kepuharum. (ram/ris)

Editor : Martda Vadetya
#pertempuran #mojokerto #Tentara Belanda #kemerdekaan ri #monumen