Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Bertransformasi Jadi Pusat Pemerintahan Daerah  

Rizal Amrulloh • Kamis, 9 Januari 2025 | 19:05 WIB

 

BERCORAK EROPA: Salah satu bangunan yang berada di area permukiman Belanda di Kota Mojokerto saat masa penjajahan kolonial. (foto: Rizal Amrulloh/JPRM)
BERCORAK EROPA: Salah satu bangunan yang berada di area permukiman Belanda di Kota Mojokerto saat masa penjajahan kolonial. (foto: Rizal Amrulloh/JPRM)

SEMENTARA itu, dibangunnya permukiman kolonial di kawasan tepi Sungai Brantas membuat Kota Mojokerto berkembang pesat.

Selain dijadikan sebagai lokasi pendirian pabrik gula (PG), pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto juga dipindah dari Japan ke tengah kota.

Ayuhanafiq menuturkan, dibangunnya kantor perdagangan di seberang Sungai Brantas memang bukan tanpa alasan.

Sebab, lokasi itu dipilih untuk mempermudah distribusi barang perniagaan yang dahulu memanfaatkan jalur air.

’’Karena angkutan barang dari Mojokerto ke Surabaya dahulu memanfaatkan jalur sungai,’’ paparnya.

Setelah ramai menjadi permukiman, Kota Mojokerto mulai dilirik oleh investor asing.

Hingga akhirnya, pada kisaran 1836 dirikan sebuah pabrik gula yang juga dibangun di sisi selatan Sungai Brantas.

’’Dengan adanya kantor perdagangan sekaligus pabrik gula menjadikan infrastruktur di Kota Mojokerto terus ditingkatkan,’’ jelas Yuhan.

Pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto dipindah di tengah kota.

Bupati Tjondronegoro memilih lahan yang juga tak jauh dari Sungai Brantas untuk dijadikan sebagai kantor dan pendapa atau kini berada di Jalan A. Yani.

Lokasinya juga berdekatan dengan Kantor Asisten Residen Mojokerto yang menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah kolonial.

’’Sehingga kawasan kota tak sekadar menjadi permukiman, tetapi kemudian menjadi pusat dari pemerintahan daerah,’’ pungkas dia. (ram/fen)

 

Editor : Martda Vadetya
#sungai brantas #perdagangan #kolonial #kabupaten mojokerto #belanda #infrastruktur #Kota Mojokerto