SEMENTARA itu, keberdaan SMA di Mojokerto membuka harapan bagi warga usia sekolah untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Seiring perjalanannya, lembaga pendidikan ini mampu berkembang pesat dan menjadi sekolah favorit.
Ayuhanafiq memaparkan, setelah kunjungan Presiden pertama RI Soekarno, SMA Mojokerto makin dikenal luas oleh masyarakat.
Keberadaannya juga meningkatkan minat anak-anak lulusan SMP untuk melanjutkan pendidikan. ”Masyarakat juga dipermudah dengan biaya sekolah yang lebih murah,” ujarnya.
Meskipun pada awal pendiriannya, SMA Mojokerto masih menggabung di salah satu gedung di Pemkab Mojokerto.
Guna menampung antusiasme warga, pihak sekolah kemudian berencana membangun gedung secara mendiri.
Yuhan mengatakan, SMA Mojokerto kemudian membentuk kepanitiaan untuk merealisasikan pembangunan gedung.
Dalam keputusannya, panitia bersepakat untuk mendirikan sekolah di sebuah lahan yang berada di Dusun Gatoel, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.
Menurutnya, belum ditemukan catatan kapan gedung SMA pertama di Mojokerto ini mulai dibangun.
Namun, diperkirakan gedung baru didirikan tak berselang lama setelah mendapat kunjungan dari Bung Karno.
”Karena gedung dibangun di Gatoel, sehingga sekolah ini juga dikenal dengan SMA Gatoel,” ulasnya.
Lembaga pendidikan ini selanjutnya ditetapkan sebagai satu-satunya sekolah yang berstatus negeri.
Dengan lokasi strategis yang berbatasan langsung dengan wilayah Kota Mojokerto, SMA Gatoel kemudian menjadi pilihan sekolah favorit.
”Sekolah ini menjadi tujuan utama baik oleh masyarakat Kabupaten dan Kota Mojokerto untuk menyekolahkan anaknya,” ucapnya.
Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan yang beralamat di Jalan Jayanegara ini kemudian bertransformasi menjadi SMA Negeri 1 Puri.
Keberadaannya juga menjadi tonggak berdirinya sekolah setingkat SMA/SMK lainnya di Mojokerto Raya. (ram/ris)
Editor : Martda Vadetya