PADA masa kepemimpinan Bupati Ardi Sriwidjaja, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto menggencarkan pembangunan.
Salah satu yang terwujud adalah berdirinya sekolah menengah atas (SMA) pertama setelah kemerdekaan RI.
Pemerhati sejarah Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, pada masa awal kemerdekaan belum ada lembaga pendidikan jenjang SMA di Mojokerto.
Kala itu, siswa lulusan sekolah menengah pertama (SMP) masih harus ke luar daerah untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang setingkat di atasnya.
’’Untuk melanjutkan sekolah, anak-anak Mojokerto harus ke Kota Surabaya maupun kota lainnya yang memiliki SMA,’’ tandas dia.
Baru setelah 13 tahun pascaproklamasi, Mojokerto akhirnya memiliki lembaga pendidikan SMA sendiri.
Pendirian sekolah ini diinisiasi Bupati Ardi Sriwidjaja pada 1958. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, tempat mengenyam pendidikan baru ini tidak memiliki gedung sendiri.
Melainkan, ditempatkan di kompleks Kantor Bupati Mojokerto, Jalan A. Yani, Nomor 16, Magersari, Kota Mojokerto.
’’Ruangan di gedung Balai Prajurit dimanfaatkan sebagai tempat pembelajaran,’’ jelas pria yang akrab disapa Yuhan ini.
Masyarakat menyambut antusias berdirinya sekolah yang dinamakan SMA Mojokerto ini.
Bahkan, keberadaan lembaga pendidikan lanjutan tingkat atas ini juga menjadi atensi pemerintah RI.
Hingga pada 17 Mei 1958, Presiden Soekarno menyempatkan diri untuk meninjau langsung SMA pertama di Mojokerto ini.
Turun dari Stasiun Mojokerto, kedatangan tokoh yang dikenal dengan Bung Karno ini mendapat sambutan meriah selama perjalanan menuju pendapa Pemkab Mojokerto.
Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya yang membius para siswa.
Sosok yang masa kecilnya juga bersekolah di Kota Mojokerto ini memotivasi kepada peserta didik untuk untuk terus menuntut ilmu hingga jenjang perguruan tinggi.
’’Bung Karno berpesan kepada siswa untuk menggunakan kepintarannya untuk berbakti pada bangsa dan tanah air,’’ ulas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya