PERINGATAN Hari Santri Nasional menjadi momen untuk mengenang peran umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan RI pada masa revolusi.
Selain melawan penjajah dengan gerakan Resolusi Jihad, para kiai dan santri juga menentang kolonialisme melalui pendidikan pesantren dan sarung yang menjadi identitas budaya.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, sarung telah eksis sejak perkembangan Islam di nusantara.
Atribut berbahan kain ini lazim dikenakan masyarakat, terutama di Jawa sebagai pakaian sehari-hari.
’’Karena secara pemakaian, sarung dinilai lebih praktis dibanding jenis pakaian lainnya,’’ paparnya.
Tak sekadar sebagai alat sandang, sarung kemudian bertransformasi menjadi identitas budaya dalam melawan penjajahan.
Yakni, ketika masa pendudukan kolonial yang membentuk Hindia-Belanda.
’’Karena Belanda saat itu juga gencar mengkampanyekan gaya hidup barat dengan setelan jas dan celana yang dianggap lebih modern,’’ ulasnya.
Namun, gaya pakaian tersebut mendapatkan tentangan dari para kiai.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, gelombang perlawanan dari tokoh ulama ini bertujuan agar warisan budaya lokal tak tergerus oleh kolonial.
Sehingga, pada 1932, di Jawa muncul gerakan untuk menolak produk pakaian asing.
Aksi boikot yang juga dikenal dengan gerakan swadeshi ini dibarengi dengan menjadikan sarung sebagai pakaian daerah.
’’Rakyat mengunakan sarung sebagai wujud dukungan terhadap produk lokal,’’ ulas penulis buku Revolusi di Pinggir Kali, Pergerakan di Mojokerto Tahun 1945-1950 ini.
Di samping itu, para kiai juga terus menggencarkan gerakan bersarung dengan menjadikannya sebagai pakaian wajib para santri di pondok pesantren.
Lembaga pendidikan Islam tradisional ini juga mulai jamak didirikan di sejumlah wilayah guna melawan praktik pendidikan sekolah formal yang dibentuk kolonial.
’’Maka, sarung dan pesantren menjadi menjadi sebuah identitas perlawanan penjajahan yang digagas oleh para kiai,’’ imbuhnya.
Perjuangan tak berhenti setelah tercapainya proklamasi kemerdekaan RI.
Kembalinya Belanda untuk menduduki tanah air memicu dikeluarkannya Resulusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Fatwa yang digaungkan Kiai Hasyim Asy'ari dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ini membuat kaum muslim, termasuk para santri turut menjadi garda terdepan dalam mempertahankan kemerdekaan RI. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya