LAUTAN massa memadati halaman GOR dan Seni Mojopahit untuk mendukung tim nasional (timnas) Indonesia melawan Bahrain melalui nobar pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia Grup C, Kamis (10/10) malam.
Fanatisme terhadap sepak bola tersebut seakan kembali bangkit di bekas Lapangan Mangoensari yang dibangun pada masa kolonial.
Di masa pra kemerdekaan RI, lokasi yang kini berdiri gedung olahraga dan kompleks Pemkot Mojokerto di Jalan Gajah Mada itu merupakan stadion yang cukup megah di zamannya.
Fasilitas tersebut dibangun seiring tingginya animo masyarakat terhadap sepak bola.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, demam sepak bola di Mojokerto telah muncul sejak 1920-an.
Itu ditandai dengan berdirinya sejumlah tim kesebelasan. ”Di masa kolonial, terdapat beberapa klub sepak bola dibentuk di Kota Mojokerto,” katanya.
Di antaranya, terdapat Modjokerto Voetbal Club (MVC) yang para pemainnya terdiri dari warga berdarah Eropa.
Selain itu, warga keturunan Tionghoa juga membentuk klub sepak bola Hua Chiao Tsing Nien Hui (HCTNH).
Termasuk juga masyarakat pribumi Mojokerto yang juga mendirikan tim kesebelasan bernama Modjopahit Voetbalbond.
”Klub Modjopait yang menampung pemain-pemain lokal,” tandasnya.
Dengan terbentuknya klub-klub sepak bola itu, maka dibangun lapangan yang lebih representatif untuk menggelar kompetisi.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini memaparkan, hingga akhirnya pada 1926 didirikan stadion yang berada di sisi timur Jalan Gajah Mada.
”Stadion baru itu dinamakan Mangoensari Sportterain,” jelas dia
Menurut Yuhan, fasilitas itu dicetuskan oleh HJ Berg yang berlatar belakang sebagai guru olahraga di Hoogere Burge School (HBS) Surabaya.
Kala itu, lapangan sepak bola Mangoensari terbilang megah. Karena sekelilingnya dibangun pagar setinggi kurang lebih 2,5 meter.
Dan, lahan yang digunakan juga sangat luas. Yakni, terbentang mulai dari selatan SMPN 1 Mojokerto sampai di dekat jalur rel keteta api (KA).
”Di dalamnya terdapat dua lapangan sepak bola. Masing-masing sebagai lapangan utama dan lapangan untuk latihan,” imbuh Yuhan.
Dengan berdirinya Stadion Mangoensari itu, tim kesebelasan kembali bermunculan.
Termasuk dari institusi kepolisian yang turut meramaikan dengan membentuk Veldpolitie Voetbal Club (VVC) dan klub dari pegawai KA.
Fanatisme masyarakat Kota Mojokerto terhadap si kulit bundar pun kian meningkat.
Bahkan, setelah terbentuknya federasi Modjokertosche Voetbal Unie (MOVU) yang menaungi klub-klub sepak bola.
Yuhan mengatakan, antusiasme juga terlihat dari kedatangan suporter yang berbondong-bondong datang ke Stadion Mangoensari untuk mendukung klub kebanggaan masing-masing.
”Pertandingan sepak bola saat itu sudah diberlakukan tiket untuk masuk ke Lapangan Mangoensari,” ulasnya.
Seiring berjalannya waktu, ingar bingar penonton sepak bola semakin redup, setelah lapangan utama sepak bola direlokasi ke Gelora A. Yani.
Lapangan Mangoensari pun digantikan dengan pembangunan kompleks gedung pemerintahan Kota Mojokerto dan GOR dan Seni Mojopahit. (ram/ris)
Editor : Martda Vadetya