Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Waspadai Mata-mata Belanda, Menghilang dengan Nama Samaran

Rizal Amrulloh • Kamis, 5 September 2024 | 13:05 WIB
IKONIK: Bung Tomo saat berpidato di Mojokerto usai Kota Surabaya dikuasai belanda pada masa revolusi kemerdekaan RI. (foto: dok.Ayuhanafiq)
IKONIK: Bung Tomo saat berpidato di Mojokerto usai Kota Surabaya dikuasai belanda pada masa revolusi kemerdekaan RI. (foto: dok.Ayuhanafiq)

SEMENTARA itu, Bung Tomo akhirnya menjalankan aksi pelariannya dari Mojokerto pada akhir 1946.

Rencananya berjalan mulus, karena pahlawan nasional yang identik dengan peci perjuangannya ini tak diketahui jejaknya.

Karena selama menghilang, dia juga menggunakan nama samaran.

Ayuhanafiq menceritakan, dari markas pejuang di Gempolkerep, Bung Tomo melakukan pelarian dengan menyamar seperti rakyat jelata.

Menurutnya, sang pejuang hanya berbekal pakaian yang melekat di badan dan membawa sarung. ’’Bung Tomo meninggalkan Mojokerto dengan berjalan kaki,’’ sambungnya.

Dengan menempuh jalan pedesaan, Bung Tomo pergi menuju Desa Tapen, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang.

Namun, Bung Tomo tidak lama di tempat tersebut karena hanya singgah dan istirahat.

Yuhan mengatakan, Bung Tomo kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat di Kabupaten Tulungagung.

Menurutnya, di wilayah tersebut dinilai lebih aman dibanding daerah lainnya karena jauh dari medan pertempuran.

’’Selama pelarian, Bung Tomo menggunakan nama samaran,’’ urainya.

Bung Tomo menganti bamanya dengan Suparjan. Pelarian dan penyamarannya nyaris tidak bisa terdeteksi musuh.

Bahkan, hilangnya Bung Tomo juga membuat anggota BPRI juga menyebar untuk melakukan pencarian.

’’Karena Bung Tomo pergi tanpa pamit,’’ imbuh Yuhan.

Hingga akhirnya, keberdaannya terendus oleh anggotanya sendiri. Kesatuan BPRI kemudian mengirimkan pasukan untuk menjemput komandan tertingginya di Tulungagung.

’’Bung Tomo diminta kembali ke Mojokerto setelah berminggu-minggu menghilang,’’ ulasnya.

Penulis buku Revolusi di Pinggir Kali, Pergerakan di Mojokerto Tahun 1945-1950 ini mengatakan, pada awal 1947 kondisi di Mojokerto mulai stabil. Bersama BPRI, sang pejuang revolusi ini pun kembali ke Mojokerto.

Belanda pun mendengar kabar kepulangannya Bung Tomo ke Mojokerto.

Pada 17 Maret 1947, pasukan musuh menerobos pertahanan Mojokerto dan berhasil masuk ke Peringgitan Bupati Mojokerto.

Namun, kata Yuhan, kolonial tidak berhasil menemukan Bung Tomo.

Karena pejuang kelahiran 3 Oktober 1920 ini telah melanjutkan perjuangannya dengan kembali ke Malang. (ram/fen)

Editor : Martda Vadetya
#mojokerto #kolonial #belanda #bung tomo #rakyat