SEJAK masa kolonial, biji kopi telah menjadi salah satu komuditas unggulan di Mojokerto.
Bahkan, hasil dari perkebunan yang ditanam di lereng pegunungan tersebut berhasil menembus pasar Eropa.
Sayang, praktik monopoli perdagangan membuat kopi tidak bebas diperjualbelikan.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, kopi menjadi komoditas penting pada era pemerintahan kolonial.
Kawasan pegunungan di selatan Mojokerto dikelola Belanda menjadi koffie onderneming alias perkebunan kopi.
’’Tanaman kopi dibudidayakan di wilayah Kawedanan Jabung,’’ ungkapnya.
Tepatnya, perkebunan kopi dikelola di dataran tinggi di pegunungan Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno.
Hingga akhirnya, tiga kawasan meliputi Jatirejo, Trawas, dan Pacet menjadi daerah penghasil kopi di Mojokerto.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, setidaknya ada enam perkebunan yang membudidayakan kopi.
Jenis tanaman kopi yang dikembangkan adalah varietas kopi robusta.
’’Perkebunan kopi ini dimiliki oleh orang Belanda,’’ tandasnya.
Kala itu, perkebunan kopi Mojokerto menjadi salah satu daerah penghasil biji kopi dengan kualitas yang baik.
Karenanya, kopi masuk menjadi salah satu komoditas yang diekspor oleh kolonial. ’’Hasil perkebunan dijual ke Eropa dalam bentuk biji kopi,’’ ulas dia.
Melihat potensi tersbeut, penduduk lokal akhirnya tertarik untuk menanam kopi secara mandiri di lahan pribadi.
Meski berhasil, namun penjualan hasil panen tetap diberlakukan satu pintu oleh Belanda. ’’Karena hanya perkebunan yang memiliki hak monopoli perdagangan kopi,’’ papar Yuhan.
Praktik monopoli perdagangan kopi tersebut tersebut tentu tidak menguntungkan petani lokal.
Karena harga jual telah ditetapkan oleh pihak perkebunan dengan banderol yang sangat rendah.
Demi mengantongi pendapatan lebih, petani akhirnya memilih untuk menjualnya secara sembunyi-sembunyi.
Meski dilarang kolonial, penduduk nekat menjual secara ilegal untuk mendapatkan harga jual biji kopi yang wajar.
’’Lambat laun, praktik jual beli gelap itu kemudian semakin marak dilakukan petani kopi lokal,’’ paparnya. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya