JULI 1945, pasukan Sekutu berancang-ancang menuju Kota Surabaya untuk melaksanakan misi melucuti tentara Jepang.
Kota Mojokerto menjadi salah satu target penyerangan karena masih diduduki oleh pasukan Nippon.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, rencana kedatangan pasukan Sekutu ke Surabaya merupakan rangkaian operasi setelah berhasil menundukkan tentara Jepang di Kota Tarakan dan Balikpapan pada Juli 1945.
Persiapan pun dilakukan dengan memetakan target serangan untuk mengambil alih pangkalan militer.
’’Persiapan penyerangan dilakukan ke Surabaya dan daerah di sekitarnya. Termasuk Mojokerto yang menjadi salah satu target sasaran,’’ ulasnya.
Berdasarkan peta tahun 1945, terdapat puluhan titik yang ditandai sebagai target serangan oleh pasukan Sekutu.
Seluruhnya merupakan objek vital mulai dari markas militer, pusat pemerintahan, sekolah, hingga fasilitas umum lainnya. ’’Beberapa titik tempat penting tersebut berada di dalam wilayah Kota Mojokerto,’’ ulasnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, setidaknya terdapat 23 titik yang menjadi ditandai oleh pasukan Sekutu.
Di antaranya Kantor Bupati Mojokerto, Stasiun Mojokerto, Pasar Kliwon atau kini Tanjung Anyar, kantor pos, rumah sakit umum, water toren alias menara air, hingga Alun-Alun Kota Mojokerto.
Selain itu, sejumlah gedung yang dijadikan sebagai tentara Jepang juga tak luput dari target sasaran.
Meliputi rumah penguasa administrasi sipil Jepang di Jalan A. Yani, garasi sekaligus markas komandan tentara Jepang atau kini Makorem 082/CPYJ, serta detasemen atau kantor polisi di Jalan Bhayangkara.
Selain itu, juga terdapat sejumlah titik lainnya yang dibidik untuk melumpuhkan pasukan dari Negeri Matahari Terbit.
’’Karena keberadaan tempat-tempat penting itu menunjang mobilitas pasukan, sehingga Sekutu berencana untuk melumpuhkannya,’’ ulas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya