SEMENTARA itu, pembangunan stuwdam Lengkong juga disusul dengan pendirian lembaga pengairan yang dipusatkan di Kota Mojokerto.
Kantor yang dinamakan Irrigatie Afdeling Brantas ini berfungsi untuk mengontrol debit air di Sungai Brantas.
Ayuhanafiq mengungkapkan, lembaga pengairan Sungai Brantas menjadi bagian dari Departemen Pekerjaan Umum Pemerintahan Hindia-Belanda.
Dibentuk sejak tahun 1885, bagian yang mengurusi irigasi ini bernama Provinciale Irrigatie Afdeling Brantas.
’’Pada tahun 1912, kantor irigasi Brantas ini dibangun di selatan Alun-Alun Kota Mojokerto,’’ sambungnya.
Dia mengatakan, penempatan titik lokasi kantor yang bertugas mengontrol penggunaan air ini bukan tanpa alasan.
Sebab, Kota Mojokerto berdekatan dengan dua pintu air yang membagi suplai air dari Sungai Brantas.
’’Selain di dam Lengkong yang mengalirkan air ke wilayah Sidoarjo, juga terdapat pintu air Mlirip yang mengatur air menuju Surabaya,’’ tandasnya.
Yuhan menyebutkan, salah satu fungsi dari kantor Irrigatie Afdeling Brantas ini adalah untuk mengatur irigasi ke perkebunan tebu.
Sehingga, meski saat kemarau, industri gula masih bisa tetap berproduksi dengan suplai air dari Sungai Brantas.
Tak hanya itu, kantor irigasi ini dibentuk untuk mengendalikan banjir. Utamanya mengontrol aliran air ke Kota Surabaya yang rentan tergenang saat musim penghujan. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya