Riwayat Sekolah Soekarno di Mojokerto
TIAP bulan Juni diperingati sebagai bulan Bung Karno. Dan, Kota Mojokerto menjadi salah satu tapak tilas dari Presiden RI pertama.
Salah satunya histori dari perjalanan pendidikan masa kecilnya saat mengenyam pendidikan di sekolah Ongko Loro dan Europeesche Lagere School (ELS) saat tinggal di Kota Mojokerto sejak 1908 sampai 1916.
Begitu melekatnya kenangan di Kota Mojokerto, Bung Karno -sapaan Soekarno- sempat menugaskan tim khusus untuk mengabadikan gedung sekolahnya.
Dokumentasi foto lawas tersebut kini masih tersimpan sebagai koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi Jawa Timur.
’’Pendokumentasian dilakukan oleh tim fotografer pada tahun 1964,’’ terang pemerhati sejarah Jombang-Mojokerto Moch. Faisol.
Dia mengatakan, lokasi pemotretan yang dipilih adalah di ELS atau yang kini menjadi SMPN 2 Kota Mojokerto.
Tidak menutup kemungkinan, pengambilan foto juga dilakukan di SDN Purwotengah atau yang pada masa kolonial disebut Tweede Inlandsche School.
Diperkirakan, tim tersebut turun atas instruksi langsung dari Presiden Soekarno. ’’Karena ada foto dari para mantan pengelola sekolah dan guru-guru Bung Karno,’’ tandas penulis buku Jejak Laskar Hizbullah ini.
Selain itu, sesi pemotretan juga dilakukan pada kondisi gedung sekolah yang dahulu hanya diperuntukkan siswa dari kalangan Eropa.
Meski didokumentasikan 60 tahun silam, tampak gedung sekolah yang kini berstatus cagar budaya tingkat kota ini tidak banyak berubah. ’’Kemungkinan foto juga diambil di rumah mantan gurunya juga,’’ tandas dia.
Namun, dirinya belum menemukan informasi detail terkait tujuan diabadikannya bekas sekolah dan para gurunya. Terlebih, pengambilan foto dilakukan pada tahun terakhir Bung Karno menduduki kursi Presiden RI.
’’Apakah untuk persiapan rencana kunjungan Bung Karno ke Mojokerto atau keperluan yang lain, belum ada informasi,’’ tandas dia.
Seperti diketahui, semasa kecil Soekarno menempuh pendidikan dasar di sekolah Ongko Loro pada tahun 1909 hingga 1912.
Kemudian, tokoh berjuluk Putra Sang Fajar ini melanjutkan pendidikan ke ELS lalu ke Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya pada 1916. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya