RADARMAJAPAHIT- Di Kota Mojokerto, keberadaan kelompok gangster meresahkan publik sejatinya telah ada sejak masa awal kemerdekaan. Bahkan, kala itu mereka membuat onar dengan menebar teror hingga melakukan tindak kriminalitas.
Anggota Dewan Kebudayaan (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, keberadaan gangster muncul pada kisaran tahun 1950. Di masa awal masa kemerdekaan itu, masih sering terjadi gangguan keamanan yang dilakukan oleh kelompok pemuda.
Bahkan, gerombolan anak muda tersebut tak hanya menimbulkan keresahan masyarakat. Tetapi, juga menebar teror di tengah kota lantaran ada yang memiliki senjata api. ”Senjata api itu merupakan sisa dari perang kemerdekaan,” tandasnya.
Berbekal senjata tersebut, keberadaan gangster pun menjadi ancaman bagi masyarakat. Karena tak jarang mereka juga melakukan tindak kriminalitas.
Meskipun, kata dia, perbuatan yang dilakukan tidak murni untuk menguasai harta benda atau kekerasan, hingga menimbulkan jatuh korban jiwa.
Tetapi, para gangster sekadar menebar ketakutan dengan membuat keonaran. ”Ada yang bertujuan sekadar iseng, sehingga melakukan tindak kriminal kecil-kecilan,” imbuhnya.
Namun, pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, ada juga yang bermotif politis, bertujuan untuk mengganggu stabilitas pemerintahan.
Karena itu, gangster menciptakan keresahan publik secara terbuka di tempat-tempat keramaian.
Di antaranya di kawasan Alun-Alun Kota Mojokerto yang juga dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto. Termasuk di sentra perniagaan di sepanjang Jalan Mojopahit.
Selain teror, anggota gangster juga tak segan melukai korban, masyoritas dari kalangan perempuan. ”Kebanyakan korban mengalami tusukan benda tajam berbentuk jarum runcing,” ulas Yuhan.
Dari benda yang digunakan itu, aksi kriminalitas ini terindikasi hanya untuk menebar ancaman. ”Ada juga yang memperkirakan motif penyerangan demi meraih ketenaran saja,” imbuhnya.
Situasi di tengah kota kian mencekam karena gangster terus-menerus melakukan aksi serupa. Serangan tak hanya dilakukan dengan jarak dekat, tetapi juga ada yang menggunakan ketapel.
Yuhan mengatakan, serangan itu tiba-tiba muncul dari balik kegelapan malam di kawasan pecinan. Sehingga pihak berwajib pun kesulitan mengungkap para pelakunya. Maraknya aksi kejahatan jalanan ini sempat memunculkan adanya larangan untuk keluar malam, khususnya bagi perempuan.
Selain itu, kawasan pertokoan juga memilih tutup lebih awal. ”Kota yang biasanya menjadi pusat keramaian berubah menjadi sepi saat malam hari,” pungkas Yuhan. (ram/ris)
Editor : Martda Vadetya