Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Candi di Trowulan Mojokerto Ini Konon Jadi Tempat Penyimpanan Air Suci saat Kerajaan Majapahit

Imron Arlado • Jumat, 10 Mei 2024 | 02:00 WIB
Berada tak jauh dari Candi Brahu, Candi Gentong ini terlihat sangat sederhana namun menyimpan cerita menarik.
Berada tak jauh dari Candi Brahu, Candi Gentong ini terlihat sangat sederhana namun menyimpan cerita menarik.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Mojokerto merupakan sebuah wilayah yang menyimpan banyak sejarah di dalamnya.

Terutama Trowulan yang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit. Hal ini dibuktikan dari ditemukannya berbagai situs peninggalan Kerajaan Majapahit.

Salah satunya yaitu Candi Gentong yang tak banyak orang tahu.

Candi Gentong tidak memiliki pesona dan keunikan serta legenda yang dimiliki oleh kebanyakan candi yang ada di Mojokerto.

Candi ini hanya terbentuk dari tumpukan batu bata yang terbuat dari tanah liat dan tersusun tidak beraturan.

ARTEFAK: Koleksi terakota wadah berbentuk gentong, jambangan, guci, hingga kendi koleksi Museum Gubuk Wayang yang dipamerkan di Balai Kota Mojokerto.
ARTEFAK: Koleksi terakota wadah berbentuk gentong, jambangan, guci, hingga kendi koleksi Museum Gubuk Wayang yang dipamerkan di Balai Kota Mojokerto.

Sehingga pengunjung seringkali bertanya, apa yang membuat candi ini tak seperti candi lain yang ada di Mojokerto.

Candi Gentong merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit yang dibangun saat masih di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk sekitar tahun 1350-1389 Masehi.

Konon, dahulu kala, candi ini digunakan sebagai tempat penyimpanan air suci pada zaman kerajaan Majapahit.

Candi ini baru ditemukan pada tahun 1889. Penamaan candi gentong sendiri adalah karena ketika awal ditemukan masyarakat, candi ini tertimbun tanah yang menggunung dengan lubang besar tengah menyerupai gentong.

Tak hanya itu, masyarakat juga menemukan pecahan gentong di candi ini.

BERBAHAN TANAH LIAT: Gentong berukuran besar berfungsi untuk menyimpan air.
BERBAHAN TANAH LIAT: Gentong berukuran besar berfungsi untuk menyimpan air.

Candi ini dibangun dari susunan batu bata merah yang disusun satu per satu dengan menggunakan teknik gosok atau menggunakan spesi berbahan tanah liat.

Candi ini memiliki denah bujur sangkar dengan ukuran 23,5 x 23,5 meter dan tinggi 2,45 meter.

Candi Gentong merupakan candi beraliran Buddha yang memiliki sejarah yang menarik. Yaitu didirikan ketika masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Tujuan Candi Gentong didirikan adalah untuk melakukan upacara Sraddha sebagai peringatan atas meninggalnya Tribuana Tungga Dewi, ibu dari Hayam Wuruk karena dianggap sebagai air suci pada masa itu.

Candi ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang berada di sebelah selatan merupakan candi gentong I, dan yang berada di sebelah utara itu candi gentong II.

Kedua candi tersebut masih dalam satu garis sumbu yang sama.

Tahun 1925, Maclaine Pont mendaftarkan candi gentong dalam peta rekonstruksi Kota Mojokerto.

Penggalian lebih lanjut dilakukan antara tahun 1994 hingga 2004. Selama penggalian, banyak artefak ditemukan, termasuk keramik dari masa dinasti Yuan dan Ming, fragmen tembikar, mata uang Cina, emas, stupika, dan arca Buddha.

Stupika yang merupakan salah satu ornamen yang ditemukan ketika penggalian ini terbuat dari tanah liat yang berbentuk menyerupai stupa berukuran kecil.

Dalam stupika ini terdapat pahatan yang bertuliskan berupa mantra Buddha yang ada pada bagian bawah.

Candi ini menjadi sebuah bukti kuat dari adanya toleransi dua agama yang ada pada saat itu.

Hal ini dibuktikan dari kedua agama yaitu Buddha dan Hindu yang bisa hidup berdampingan dan hal itu sudah mendapatkan pengakuan dari pemerintahan. (Firza Aulia Ningrum) 

 

Editor : Imron Arlado
#mojokerto #Situs Trowulan #candi gentong #kerajaan majapahit