Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Cerita Keunikan Lumpang yang Terpisah dengan Alu, di Gunung Gedangan, Kota Mojokerto

Moch. Chariris • Minggu, 7 April 2024 | 05:22 WIB

 

TANPA ALU: Kondisi batu lumpang yang masih terawat di area Makam Mbah Derpo di Kelurahan Desa Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. (foto: Awaludin Ibnu for Radar Majapahit)
TANPA ALU: Kondisi batu lumpang yang masih terawat di area Makam Mbah Derpo di Kelurahan Desa Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. (foto: Awaludin Ibnu for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT – Zaman dahulu lumpang menjadi salah satu peralatan memasak dan menumbuk, berbahan dari batu.

Lumpang memiliki fungsi untuk menumbuk padi maupun bumbu makanan.

TERAWAT: Suasana area pemakaman umum di Lingkungan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. (foto: Awaludin Ibnu for Radar Majapahit)
TERAWAT: Suasana area pemakaman umum di Lingkungan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. (foto: Awaludin Ibnu for Radar Majapahit)

Pada umumnya alat ini berad di sekitar dapur atau belakang rumah.

Tapi, lumpang yang satu ini justru berada di area Makam Mbah Derpo, di Lingkungan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

Lumpang berdiamter 2 meter dan tinggi 60 sentimeter ini cukup unik.

Sebab pada lumpang ini tidak ditemukan alu.

Saat ini lumpang tersebut dikermatkan warga setempat.

Kondisinya masih terawat dan tersimpan di area Makam Mbah Derpo, Mbah Suto, dan Nyai Pandan Sari.

Berdasarkan cerita warga setempat, tiga makam tersebut merupakan tokoh babat desa wilayah Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kota Mojokerto.

”Konon katanya Mbah Derpo berasal dari Kediri, tapi tidak diketahui persis asal-usulnya. Namun makam ini cukup dikeramatkan masyarakat,” ujar Santoso, juru pelihara makam, Sabtu (6/4).

Lumpang ini sedikit berbeda.

Jika biasanya lumpang selalu menyatu dengan alu.

Tetapi tidak dengan lumpang yang satu ini.

Antara keberadaan alu dan lumpang lokasinya terpisah.

Lumpang berada di Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, sedangkan alu berada di Desa Sebani, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo.

Santoso mengungkapkan, sebenarnya lumpang ini pernah dipindahkan ke Museum Trowulan di era kolonial Belanda.

Tetapi, keesokan harinya kembali lagi ke tempat semula tanpa diketahui siapa yang mengembalikan.

”Sering ada pengunjung luar daerah yang sengaja datang dengan tujuan mengingat sejarah atau dengan tujuan lain,” tandasnya.

Makam Mbah Derpo dan Mbah Suto juga cukup dikeramatkan.

Bahka, setiap tahun pada acara ruwat desa masyarakat mengadakan tasyukuran di pelataran Makam Mbah Derpo.

Kegiatan ini juga bermakna menghormati leluhur sekaligus melestarikan tradisi dan budaya.

”Kegiatan itu juga cukup penting untuk melestarikan sejarah,” tandasnya. (awaludin ibnu)

Editor : Moch. Chariris
#batu #Kota Mojokerto #Lumpang