Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sejarah Majapahit, Kesetiaan Emban Kinasih, Dayang Kesayangan Ratu Suhita

Moch. Chariris • Sabtu, 6 April 2024 | 05:24 WIB
TERJAGA: Pengunjung melihat makam yang terawat di Makam Emban Kinasih di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Annisa Fadilah for Radar Majapahit)
TERJAGA: Pengunjung melihat makam yang terawat di Makam Emban Kinasih di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Annisa Fadilah for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, terkenal dengan makam tokoh-tokoh bersejarah Islam dan era Kerajaan Majapahit.

Mulai dari Makam Ratu Dyah Suhita atau biasa dikenal sebagai Ratu Ayu Kencana Wungu hingga punjernya para wali.

MENGENANG JASA: Pengunjung mengamati makam Tujuh Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
MENGENANG JASA: Pengunjung mengamati makam Tujuh Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

Di belakang makam Ratu Dyah Suhita terdapat Makam Tujuh Troloyo atau dikenal sebagai makam para penasihat kerajaan.

Salah satunya termasuk makam dayang Ratu Dyah Suhita.

Dayang Dyah Ratu Suhita yang dimakamkan di Makam Tujuh Troloyo ini bernama Emban Kinasih.

Ia dikenal sebagai dayang kepercayaan Ratu Dyah Suhita dan Raja Damarwulan.

Emban Kinasih diketahui wafat pada tahun 1298 Saka atau 1736 Masehi.

Menurut sejarah, meninggalnya Emban Kinasih dikarenakan setelah menerima perintah dari Raja Damarwulan  untuk melihat kondisi Majapahit.

Raja yang sedang mengungsi di gunung saat itu mendapat pemberitahuan, bahwa kondisi Majapahit sedang diambang kehancuran.

Lalu raja memberi perintah kepada Emban Kinasih dan penasihatnya untuk melihat kondisi Majapahit.

Ketika beliau tiba, ternyata Majapahit sudah berupa lautan api dan rata dengan tanah. Maka dari situ, Emban Kinasih tidak pernah kembali menemui Raja Damarwulan di gunung.

”Tidak hanya sendiri beliau datang bersama tokoh bersejarah yang di makamkan satu tempat dengan Emban Kinasih. Tokoh tersebut merupakan para penasihat kerajaan,” ungkap Arifin, Juru Pelihara Makam Troloyo, Jumat (5/4).

Di antaranya Makam Sabdo Palon, Noyo Genggong, dan Gajah Pramodo.

Makam Emban Kinasih dijadikan satu dengan tiga tokoh tersebut.

Yakni, Pangeran Noto Suryo, Patih Noto Kusumo, dan penasihat kerajaan Polo Putro.

”Jika dilihat dari batu nisan keempat tokoh tersebut, mereka wafat pada akhir kejayaan Majapahit, tepatnya era Raja Damarwulan atau Brawijaya V,” tandasnya.

Ratu Kencana Wungu memimpin Kerajaan Majapahit sejak 1429 hingga tahun 1447 Masehi. Ia mempunyai tokoh-tokoh penting yang ditugaskan membantu mengurusi Kerajaan Majapahit.

Terdapat tujuh orang yang menjadi kesayangan dari Ratu Kencana Wungu saat memimpin Kerajaan Majapahit.

Karena mereka dianggap telah membantu ratu dalam hal urusan kerajaan.

Ketujuh tokoh penting tersebut terbagi menjadi enam orang para penasihat kerajaan, dan satu orang dayang kesayangan Ratu Kencana Wungu.

Ketujuh tokoh tersebut di antaranya, pangeran Noto Suryo, Noto Kusumo, Gajah Pramodo, Sabdo Palon, Noyo Genggong, Polo Putro, dan Eman Kinasih.

Dari ketujuh tokoh tersebut memiliki tugas dalam bidang yang berbeda-beda.

Pangeran Noto suryo diyakini dulunya sebagai penasihat dalam bidang ahli tata negara, Noto Kusumo sebagai penasihat dalam bidang ketabiban.

Gajah Pramodo sebagai penasihat ahli peperangan atau sebagai panglima.

Sabdo Palon dan Noyo Genggong sebagai penasihat utama pada era kepemimpinan Ratu Kencana Wungu. Dan Eman Kinasih sebagai dayang yang paling disayang oleh Ratu Kencana Wungu. 

Sementara Sabdo Palon dan Noyo Genggong merupakan penasihat paling tua dalam Kerajaan Majapahit.

Kedua penasihat tersebut bertugas mempertimbangkan dan memberikan pengarahan kepada Ratu Kencana Wungu.

Dalam membuat keputusan terkait Kerajaan Majapahit.

Kematian para penasihat dan dayang tersebut di sekitar era berakhirnya masa kepemimpinan Ratu Kencana Wungu pada 1447 Masehi.

Pangeran Noto Suryo meninggal pada 1475 Masehi.

Gajah Pramodo meninggal pada 1477 Masehi. Untuk kematian tokoh lainnya belum dapat dipastikan.

Makam ketujuh tokoh kesayangan Ratu Kencana Wungu, dimakamkan di belakang makam Ratu Kencana Wungu.

Baca Juga: Sejarah Prabu Brawijaya V Memutuskan Mualaf setelah Bertemu Sunan Kalijaga

Tahun kematian para tokoh diketahui sekitar 13 hingga 15 Masehi.

 

 

Editor : Moch. Chariris
#majapahit #SUHITA #makam tujuh