RADARMAJAPAHIT - Raden Wijaya merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit pada tahun 1293-1309.
Karena Raden Wijaya berpengaruh besar dan memiliki sejarah yang panjang.
Tidak heran jika nama Raden Wijaya masih masyhur hingga sekarang.
Makam Raden Wijaya berada di Siti Inggil, Dusun/Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Siti memiliki arti tanah dan Inggil berarti tinggi.
Secara harfiah situs ini berarti Tanah yang Tinggi.
Siti Inggil pertama kali ditemukan pada tahun 1965 dan memiliki panjang dan lebar sekitar 20 meter serta tinggi 1,5 meter.
Setelah ditemukan, situs ini diperbaiki oleh pemerintah desa dan masyarakat desa.
Pada bangunan utama Siti Inggil mengalami perubahan dengan tujuan agar peziarah lebih nyaman dan memperjelas letak Makam Raden Wijaya.
”Dari awal memang situs ini dirawat dan dikelola sendiri masyarakat desa. Sebenarnya dinas terkait pernah datang, tetapi masyarakat desa sepakat situs ini dikelola sendiri (masyarakat desa),” ujar Rifai, juru pelihara Siti Inggil, Jumat (5/4).
Seperti situs kuno pada umumnya, banyak pengunjung yang datang dan berziarah. Mayoritas pengunjung berasal dari luar daerah.
Seperti Surabaya, Semarang, Palembang dan kota lainnya.
Setiap pengunjung memiliki tujuan dan hajat masing-masing.
Seperti ingin memiliki pangkat, kekayaan, hingga napak tilas.
”Sebenarnya yang ada di dalam pusara hanya ada abu Raden Wijaya bersama para selir dan permai surinya. Tapi, tetap dirawat, karena itu salah satu sarana sembahyang umat Hindu pada zaman Majapahit,” paparnya.
Di sini juga tersedia ruangan khusus bagi para pengunjung yang ingin bermeditasi.
Terkadang, pengunjung yang hajatnya terpenuhi akan kembali lagi ke Situs Siti Inggil untuk sekadar syukuran.
Di kompleks Situs Siti Inggil terdapat pula Makam Sapu Jagad dan Sapu Angin yang merupakan pengawal Raden Wijaya.
Kemudian ada Makam Mbah Kasan, salah satu guru spiritual Presiden Soeharto.
Ada pula sumur tua dan lumpang kesucian yang airnya masih bisa digunakan hingga saat ini dimanfaatkan pengunjung.
”Walaupun hanya dikelola masyarakat desa, situs ini tetap ramai pengunjung. Terkadang ada rombongan siswa dari luar daerah. Hal ini menandakan masih ada pemuda yang peduli sejarah dan mau melestarikan budaya nenek moyangnya,” tandasnya. (awaludin ibnu)
Editor : Moch. Chariris