Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Pintu Masuk Majapahit, Candi Sumur Gantung, Bukti Cinta Pejabat Kerajaan pada Putri Raja Bulu Ketigo

Moch. Chariris • Kamis, 4 April 2024 | 04:36 WIB
TERJAGA: Keaslian bentuk dan struktur batu bata Situs Candi Sumur Gantung di Dusun/Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. (foto: Awaludin Ibnu for Radar Majapahit)
TERJAGA: Keaslian bentuk dan struktur batu bata Situs Candi Sumur Gantung di Dusun/Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. (foto: Awaludin Ibnu for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Majapahit merupakan kerajaan berkuasa dan memiliki wilayah yang luas pada saat itu.

Tak heran, jika di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit terdapat beberapa kerajaan kecil.

DIRAWAT: Situs Candi Sumur Gantung yang masih dilestarikan warga, di Dusun/Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. (foto: Awaludin Ibnu for Radar Majapahit)
DIRAWAT: Situs Candi Sumur Gantung yang masih dilestarikan warga, di Dusun/Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. (foto: Awaludin Ibnu for Radar Majapahit)

Salah satunya adalah Kerajaan Bulu Ketigo, di Dusun/Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Kawasan di bawah kekuasaan Raja Bulu ini dulunya dikenal sebagai salah satu pintu masuk Ibukota Kerajaan Majapahit.

Raja Bulu Ketigo memiliki seorang putri.

Kecantikan putri itu berhasil memikat hati salah satu pejabat di Kerajaan Majapahit.

Namun, putri Raja Bulo Ketigo memberi syarat kepada pejabat Majapahit.

Meminta dibuatkan sumur yang tingginya melebihi dataran sungai.

Dahulu kala terdapat aliran sungai yang berada dekat candi.

Awalnya, Candi Sumur Gantung ini memiliki ukuran 10 x 10 meter, dan tinggi 3 meter.

Namun, sekarang semakin luas menjadi 17 x 24 meter.

Menyusul susunan struktur batu bata yang baru ditemukan.

”Putri raja bersedia menikah dengan pejabat kerajaan, tapi mengajukan syarat. Yaitu, ingin dibangunkan sebuah candi dan di tengahnya terdapat sumur. Tetapi, ingin permukaan air sumur lebih tinggi dari permukaan sungai,” ujar Sukanan, juru pelihahara Candi Sumur Gantung, Rabu (3/4).

Dahulu, kata Sukanan, di sekitar area candi terdapat beberapa pohon besar yang berdiri di antara bebatuan bersruktur.

Di antaranya, pohon kepuh, pohon asem, dan pohon serut yang kemungkinan usianya ratusan tahun.

Tetapi sekitar tahun 1980 ditebang dengan alasan dianggap membahayakan struktur candi dan potensi tumbang.

Penanaman pohon yang berada di sekitar candi ini bukan tanpa alasan.

Pohon itu ditanam agar bisa menarik aliran air bawah tanam ke sumur yang berada di atas candi.

”Setelah dibangun candi ini tidak bertahan lama, karena banyak akar pohon yang masuk ke sela-sela candi. Jadi batu bata yang berserakan ini faktor alami bukan disebabkan perusakan ataupun bencana alam,” paparnya.

Sukanan menyatakan candi ini dinilai berbeda dari candi lainnya.

Seperti Candi Borobudur, dan Candi Tikus.

Namun, Candi Sumur Gantung ini berada di atas permukaan tanah.

Sukanan menambahkan, situs ini baru didatangi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur sekitar tahun 1989.

Pada tahun 2000 candi kemudian dibangunkan pagar pelindung.

”Air sumur digunakan untuk mengaliri area pertanian di sekitar candi. Sumur ini mengering sekitar tahun 1942, berarti sumur ini sudah mengalir sekitar 6 abad,” tandasnya.

Banyak pengunjung dari luar daerah untuk sekadar melihat peninggalan Majapahit atau dengan tujuan lain.

Tak jarang pula situs ini menjadi jujukan sarana edukasi. (awaludin ibnu)

Editor : Moch. Chariris
#majapahit #Sumur Gantung #candi