RADARMAJAPAHIT - Kompleks Makam Troloyo, di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto terkenal sebagai wisata religi.
Terlebih, terdapat makam tokoh penting yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Majapahit.
Selain ada Makam Ratu Ayu Kencana Wungu, Raja Kerajaan Majapahit terakhir, dan Syekh Jumadil Kubro, sesepuh para wali, terdapat pula makam tokoh lain.
Di antaranya keberadaan Makam Telu.
Makam Telu dikenal sebagai santri Syekh Jumadil Kubro.
Di antaranya Syekh Maulana Ibrahim, Syekh Abdul Qodir Jaelani Assyni, dan Syekh Maulana Sekhah.
”Hanya tiga makam ini yang di beri nama di antara yang lain, hingga sering kali orang menyebut makam tersebut sebagai makam telu (tiga),” ujar Gimah, 82, warga setempat, Selasa (2/4).
Makam Telu tersebut diyakini orang sekitar bukanlah tokoh yang berhubungan dengan Troloyo.
Namun tiga tokoh tersebut merupakan tokoh yang sangat terkenal dan berjaya pada masa lalu.
”Tiga tokoh tersebut sering kali berpindah tempat untuk menyebarkan agama Islam, hingga tidak bisa dikatakan jika tiga tokoh tersebut memiliki kaitan dengan Troloyo,” imbuhnya.
Selain Makam Telu, terdapat juga batu besar di depan bangunan makam Syekh Jumadil Kubro.
Bebatuan itu diyakini peninggalan kerajaan Majapahit.
Batu tersebut sengaja tidak dihancurkan, sekaligus untuk mengenang di komplek Makam Troloyo pernah menjadi tempat persinggahan para ratu, raja maupun tokoh penting pada masa Kerajaan Majapahit.
”Memang sengaja tidak dihancurkan atau diperjualbelikan, karena hanya ini batu yang ditinggalkan di Troloyo dari masa kerajaan hingga saat ini,” terangnya.
Batu di pemakaman Troloyo ini memiliki ukuran besar dan kecil.
Jumlahnya ada tiga belas batu.
Di antaranya, empat berukuran besar, lima berukuran sedang, dan sisanya berukuran kecil.
Batu ini berada di antara pohon beringin yang tumbuh dengan sendirinya.
Pohon tersebut sering dijadikan untuk tempat berswafoto para peziarah. (laila ramadani)
Editor : Moch. Chariris