RADARMAJAPAHI - Makam Troloyo mungkin sudah tidak asing bagi sebagian orang. Kompleks pemakaman bercorak Islam ini memiliki nama asli Citra Pralaya atau yang berarti tempat yang luas untuk pemakaman orang Islam.
Kompleks makam ini sudah ada dari abad ke-14.
Pemakaman ini berada di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Seseorang yang dimakamkan di kompleks pemakaman ini masih memiliki hubungan dengan Kerajaan Majapahit.
Seperti Immamudin Sofari dan Raden Chusen atau Sayyid Chusen.
Immamudin Sofari dan Raden Chusen merupakan seorang santri dari Temenggung Satim Singomoyo, atau temenggung era Kerajaan Majapahit.
Masing-masing dari kedua orang tersebut memiliki tugas berbeda.
”Dari banyaknya santri Tumenggung Satim Singomoyo, hanya dua santri ini yang dimakamkan dekat dengan Mbah Temenggung Satim,” ujar Sayuti, 91, juru pelihara makam, Selasa (2/4).
Masing-masing memiliki tugas yang penting saat penyebaran agama Islam di bumi Majapahit.
Immamudin Sofari bertugas sebagai pengarep atau yang biasa dikenal sebagai mudin. Seseorang yang membantu dalam hal keagamaan, serta menjadi juru azan pada zaman Kerajaan Majapahit.
Beliau salah satu mudin kepercayaan pada zaman itu.
Sedangkan Raden Chusen atau Sayyid Chusen merupakan seorang pengurus jenazah bagi warga beragama Islam pada saat itu.
Beliau merupakan salah seorang santri Temenggung Satim Singomoyo yang gugur dalam perang dengan Kerajaan Kediri, dan wafat dalam keadaan syuhada.
”Raden Chusen menjadi salah satu santri Temenggung Satim yang setia hingga akhir hayatnya,” jelasnya.
Kedua makam ini terletak pada bagian selatan pintu masuk Makam Troloyo.
Tepatnya pada sisi timur makam Temenggung Satim Singomoyo.
Banyaknya pengunjung yang berziarah pada makam ini.
Di antaranya dari Mojokerto, Surabaya, Kediri, Blitar, hingga luar pulau Jawa.
”Banyak yang berziarah ke makam ini, terkadang sampai menginap di area makam,” pungkasnya. (annisa fadilah)
Editor : Moch. Chariris