RADARMAJAPAHIT - Temenggung Satim Singomoyo merupakan salah satu tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa.
Kini ia dimakamkan di kompleks Makam Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Temenggung Satim Singomoyo menyebarkan agama Islam di pulau Jawa membantu Syekh Jamaludin Al Akbar atau biasa dikenal sebagai Syekh Jumadil Kubro.
Bisa dikatakan bahwa mereka satu perjuangan pada kala itu.
”Dulunya Mbah Temenggung Satim Singomoyo merupakan tokoh masyarakat pada masa Kerajaan Majapahit yang menyebarkan ajaran Islam,” ujar Sarianto, 45, warga setempat, Selasa (26/3).
Dalam catatan sejarah, Temenggung Satim Singomoyo salah satu tokoh yang aktif membantu Syekh Jumadil Kubro dalam menyebarkan agama Islam di Jawa.
Saat itu, Tumenggung Satim Singomoyo juga menjadi tokoh masyarakat di zaman Kerajaan Majapahit yang sudah memeluk Agama Islam.
Beliau juga seorang pejabat kerajaan yang bisa diajak bermusyawarah.
Terutama, tentang kesulitan di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam.
Tumenggung Satim Singomoyo memiliki istri bernama Raden Ayu Dewi Condro Asmoro.
Keberadaan Tumenggung Satim Singomoyo, turut memengaruhi masyarakat Kerajaan Majapahit untuk memeluk agama Islam.
Dalam penyebarannya agama Islam di tanah Jawa, juga dibantu dua orang santri.
Yakni, Raden Husen (Sayid Chusen) dan Immamuddin Sofari.
Raden Husen yang pada masa itu sebagai pengarep atau imam.
Sedangkan Immamuddin Sofari sebagai pengurus jenazah bagi warga Islam.
Ketika perang dengan kerajaan Keling Daha Jenggala Kediri yang dipimpin Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, Tumenggung Satim Singomoyo wafat sebagai syuhada.
Beliau kemudian dimakamkan dalam satu kompleks dengan makam Sayyid Jumadil Kubro.
Baca Juga: Sejarah Majapahit, Terapkan Teknik Bangunan Berisiko Rendah dari Ancaman Gempa
Makamnya diberi tanda tanaman pohon jati.
Namun, setelah pohon jati itu besar tumbuhlah pohon aspak dan pohon beringin.
Letak makam Temenggung Satim Singomoyo berada setelah pintu masuk Makam Troloyo.
Ditandai dengan pohon beringin yang awalnya tumbuh sendiri hingga kini dibiarkan sampai sekarang.
”Pohon tersebut dikelilingi kain putih dan kuning agar menjadi penanda kalau pohon tersebut tidak boleh ditebang,” tandasnya. (laila ramadani)
Editor : Moch. Chariris