Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sejarah Sayyid Jumadil Kubro, Saudagar Kaya asal Samarkand, Uzbekistan, Putra Bangsawan dari India

Moch. Chariris • Rabu, 27 Maret 2024 | 02:02 WIB
MAJAPAHITAN: Ukiran khas Majapahitan yang terbuat dari kayu jati, menghiasi makam Syekh Jumadil Kubro, di Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto. (foto: Annisa Fadilah for Radar Majapahit)
MAJAPAHITAN: Ukiran khas Majapahitan yang terbuat dari kayu jati, menghiasi makam Syekh Jumadil Kubro, di Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto. (foto: Annisa Fadilah for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Bumi Majapahit meninggalkan segudang sejarah untuk diuraikan.

Sosok pemuka agama juga tak lepas dari sejarah Majapahit ialah Mbah Sayyid Jumadil Kubro.

KHUSYUK: Peziarah sedang membaca Yain di area Makam Syekh Jumadil Kubro, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto Laila Ramadani for Radar Majapahit)
KHUSYUK: Peziarah sedang membaca Yain di area Makam Syekh Jumadil Kubro, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto Laila Ramadani for Radar Majapahit)

Makam sesepuh walisongo ini berada di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Sayyid Jumadil Kubro mempunyai nama asli Syekh Jamaludin Al Akbar.

Beliau sosok penyebar agama Islam pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit, sebelum walisongo.

Syekh Jumadil Kubro datang pada sekitar tahun 1399 bersama putranya, Maulana Ibrahim Asmorokondi, Tuban.

”Beliau didampingi sang anak ketika sedang menyebarkan agama Islam di sini,” ujar Arifin, 60, mantan juru pelihara Makam Troloyo, Selasa (26/3).

Selain menjadi tokoh penyebar agama Islam, Syekh Jumadil Kubro.

Beliau adalah saudagar kaya berasal dari Samarkand, Uzbekistan.

Beliau lahir pada tahun 1270 sebagai putra Ahmad Syah Jalaluddin, bangsawan asal Nasrabad, India.

Ia memulai dakwahnya dari Bumi majapahit.

Namun ketika berdakwah, beliau mengalami kesulitan hingga akhirnya bertemu dengan Tumenggung Satin.

Beliau akhirnya dikenalkan dengan tokoh-tokoh bangsawan yang ada pada masa itu.

Hal ini bertujuan untuk dapat mempermudah Syekh Jumadil Kubro dalam berdakwah.

”Pada awalnya Syekh Jumadil Kubro sangat kesulitan dan banyak memperoleh kendala sebelum akhirnya bertemu dengan Tumenggung Satin,” tuturnya.

Syekh Jumadil Kubro wafat pada 15 Muharram 857 Hijriah/ 1465 Masehi di usia 116 tahun.

Makamnya kini banyak di kunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Hal ini menjadikan Makam Syekh Jumadil Kubro tak pernah sepi pengunjung, termasuk di bulan Ramadan.

”Bagi peziarah dengan jumlah banyak akan ada retibusi. Bamun biasanya untuk warga sekitar tidak akan dipungut biaya,” tandasnya. (annisa fadilah)

 

Editor : Moch. Chariris
#majapahit #makam troloyo #Syekh Jumadil Kubro