Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sejarah Majapahit, Temenggung Satim Singomoyo dan Sumur Kuno di Kompleks Makam Troloyo

Moch. Chariris • Selasa, 26 Maret 2024 | 04:58 WIB
SEJARAH: Pengunjung mengamati sumur kuno di kompleks Makam Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit).
SEJARAH: Pengunjung mengamati sumur kuno di kompleks Makam Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit).

RADARMAJAPAHIT - Sumur kuno di area kompleks pemakaman Islam zaman Kerajaan Majapahit di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, ini disebut-sebut sebagai peninggalan Mbah Temenggung Satim Singomoyo.

Sumur kuno di dalam kompleks Makam Troloyo tersebut memiliki kedalaman lima meter.

SEGAR: Pengunjung sedang cuci muka di sumur kuno Makam Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Lailatul Mukaromah for Radar Majapahit).
SEGAR: Pengunjung sedang cuci muka di sumur kuno Makam Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Lailatul Mukaromah for Radar Majapahit).

Kendati usianya mencapai ratusan tahun, namun sumber mata air sumurnya tidak pernah mengering.

Bahkan, masih dimanfaatkan hingga saat ini.

”Tidak banyak yang tahu bahwa sumur ini merupakan peninggalan dari Mbah Temenggung Satim Singomoyo,” ujar Arifin, 60, warga setempat, Senin (25/3).

 Baca Juga: Sejarah Majapahit, Terapkan Teknik Bangunan Berisiko Rendah dari Ancaman Gempa

Arifin menerangkan, di sisi selatan sumur kuno juga terdapat sebuah batu berbentuk seperti lesung.

Tempat itu diyakini warga setempat sebagai tempat minum harimau hewan piaraan Mbah Temenggung Satim Singomoyo.

Dalam catatan sejarah, Temenggung Satim Singomoyo salah satu tokoh yang aktif membantu Syekh Jumadil Kubro dalam menyebarkan agama Islam di Jawa.

Saat itu, Tumenggung Satim Singomoyo juga menjadi tokoh masyarakat di zaman Kerajaan Majapahit yang sudah memeluk Agama Islam.

Beliau juga seorang pejabat kerajaan yang bisa diajak bermusyawarah.

Terutama, tentang kesulitan di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam.

Tumenggung Satim Singomoyo memiliki istri bernama Raden Ayu Dewi Condro Asmoro.

Keberadaan Tumenggung Satim Singomoyo, turut memengaruhi masyarakat Kerajaan Majapahit untuk memeluk agama Islam.

Dalam penyebarannya agama Islam di tanah Jawa, juga dibantu dua orang santri.

Ketika perang dengan kerajaan Keling Daha Jenggala Kediri yang dipimpin Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, Tumenggung Satim Singomoyo wafat sebagai syuhada.

Beliau kemudian dimakamkan dalam satu kompleks dengan makam Sayyid Jumadil Kubro.

Makamnya diberi tanda tanaman pohon jati.

 Baca Juga: Kondisi Bekas Stasiun Peninggalan Belanda Berusia 1 Abad Lebih di Mojokerto

Namun, setelah pohon jati itu besar tumbuhlah pohon aspak dan pohon beringin.

Sementra itu, air sumur kuno ini dipercaya oleh warga setempat dan peziarah memiliki khasiat untuk kesehatan.

Selain itu, terdapat juga payung yang sudah berkarat sebagai pelindung sumur dari sinar matahari.

Peziarah yang datang ke makam Syaikh Jumadil Kubro atau Troloyo juga mengambil air sumur kuno tersebut untuk dibawa pulang.

 

”Peziarah yang datang biasanya berasal dari berbagai daerah di Jawa dan luar pulau. Seperti Medan hingga Riau,” tandasnya. (laila ramadani)

Editor : Moch. Chariris
#troloyo #majapahit #sumur