RADARMAJAPAHIT – Dusun Bocok Wetan, Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, menjadi salah satu tempat yang dipilih oleh ulama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
Syaikh Mahdum Syarfiin, merupakan tokoh ulama yang menyebarkan agama Islam, sekaligus mbabah Desa Kedungbocok.
Syaikh Mahdum Syarfiin merupakan putra KH Abdul Fatah, Pugeran, Gondang, Mojokerto.
Sedangkan KH Abdul Fatah adalah putra Sultan Pamijahan ke-2 (Banten), tak lain putra dari Sayid Ibrohim Asmoro Kondi.
Selain Sultan Pamijahan 2, Sayid Ibrohim Asmoro Kondi juga memiliki dua putra lainnya.
Tak adalah Sultan Pamijahan ke-1 dan Sunan Ampel atau Raden Rahmat.
Syaikh Mahdum Syarfiin juga dikenal sebagai cucu keponakan atau cicit Sunan Ampel.
Sekaligus buyut dari KH Hasan Bisri di Trawas, Mojokerto.
Abdul Rouf, 47, juru pelihara makam menuturkan, awal penemuan Makam Syaikh Mahdum Syarfiin pada tahun 2010, oleh warga setempat melalui isyarat mimpi.
Dalam mimpi itu menunjukkan jika ada sebuah makam ulama sekaligus sesepuh yang mbabah desa.
Setelah bermimpi, warga tersebut melakukan salat istikhara dan mendiskusinya dengan ulama sepuh setempat.
”Saat di mimpinya ditunjukkan sebuah makam, ditandai dengan batu mirip seperti nisan,” ungkapnya, Senin (25/3).
Ketika proses pembangunan makam, warga sempat mengalami kesulitan.
Sebab, letak makamnya berada di area pemakaman umum.
Sehingga banyak warga yang tidak setuju jika makam tersebut direnovasi.
Adanya pro kontra warga ini, sesepuh desa berinisiatif meminta saran kepada KH Hasan Bisri.
Tak lain karena ada garis keterunan dengan Syaikh Mahdum Syarfiin.
Setelah mendapatkan saran Kiai Hasan Bisri akhirnya warga sepakat membangun makam tersebut.
”Makam ini direnovasi secara bertahap, mulai tahun 2010 hingga saat ini. Meskipun sudah terlihat layak, tapi pembangunan teras makamnya belum selesai,” imbuhnya.
Makam Syaikh Mahdum Syarfiin berada di dekat areal persawahan.
Bangunan makamnya berukuran 2 x 4 meter.
Disamping makam terpasang payung Majapahitan.
Makam Syaikh Mahdum Syarfiin banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
Seperti Surabaya, Malang, Gresik, hingga Solo, Jawa Tengah.
Peziarah yang datang biasa ramai di Malam Rabu.
Pria 47 tahun ini menambahkan, saat acara ruwah desa atau mendekati bulan Ramadan, di Makam Syaikh Mahdum Syarfiin rutin digelar acara keagamaan.
Seperti istighotsah dan pengajian.
”Dengan adanya makam ini warga setempat mendapatkan barakah, berupa tanah (pertanian) yang subur dan hasil melimpah,” pungkasnya. (zukria amelia)
Editor : Moch. Chariris