RADARMAJAPAHIT - Mantan Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto, KH Chusaini Ilyas menyatakan, kendati sudah wafat, karomah kerahasiaan Allah SWT yang dikaruniakan kepada Pie Kuan Chen masih nampak.
Karomah itu terbukti setelah suatu saat Belanda kembali menerbangkan pesawatnya dengan melintas di angkasa Pekuncen (saat itu belum ada nama Pekuncen).
Yang terjadi, lanjut Kiai Chusaini pesawat perang milik penjajah ini mengalami hal serupa, seperti tragedi sebelumnya.
Pesawat diawaki prajurit Belanda tersebut tiba-tiba terbang tak seimbang meluncur deras menuju arah utara.
Dan, dalam waktu tak lama, terang Kiai Chusaini, pesawat Belanda kemudian terjatuh tepat di Rolak Songo Sungai Brantas Mojokerto.
"Jare Mbah Kiai Husain, lha iyo wis mati kok dadak sik aneh-aneh. Atik njawil pesawat barang. (kata Kiai Husain, sudah meninggal kok masih bertingkah aneh)," imbuhnya Kiai Chusaini melanjutkan cerita disambut kelakar beberapa tamu yang duduk bersila di sekitar Kiai Chusaini.
Tidak berselang lama, Kiai Husain pun tutup usia.
Oleh keluarga, beliau dimakamkan di Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko.
Makam beliau berada di sisi selatan masjid desa setempat.
Di depan makam terdapat buyuk (sumber air kolam) yang oleh warga setempat dikenal tak pernah surut.
Konon, saat dimanfaatkan untuk berendam atau mandi dapat membantu mengobati berbagai macam penyakit.
Di sekitarnya, terdapat pohon khas pesisir pantai utara yang terus membesar meski tumbuh di daratan.
"Nah, dari situ kemudian diangkatlah nama Pie Kuan Chen menjadi perkampungan, dadi (jadi) Pekuncen. Jadi tidak sekadar ada namanya. Semua itu ada cerita sejarahnya. Makanya, sejarah itu penting bagi kita semua untuk mengenang para leluhur," pesan Kiai Chusaini mengakhiri sekelumit cerita sejarah Pekuncen.(habis)
Editor : Moch. Chariris