Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sejarah Pangeran Majapahit, Noto Suryo, Ahli Spiritual dan Seni di Era Pemerintahan Ratu Kencana Wungu

Moch. Chariris • Selasa, 19 Maret 2024 | 02:11 WIB

 

TERPELIHARA: Peziarah berada di bagian luar Makam Pangeran Noto Suryo di Makam Tujuh Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Foto Laila Ramadani for Radar
TERPELIHARA: Peziarah berada di bagian luar Makam Pangeran Noto Suryo di Makam Tujuh Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Foto Laila Ramadani for Radar

RADARMAJAPAHIT – Peninggalan dan sejarah Majapahit seolah tak ada habisnya di Kabupaten Mojokerto.

Salah satunya adalah keberadaan Makam Pangeran Noto Suryo.

SAKRAL: Peziarah memerhatikan Makam Pangeran Noto Suryo di Makam Tujuh Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Foto Laila Ramadani for Radar Majapahit)
SAKRAL: Peziarah memerhatikan Makam Pangeran Noto Suryo di Makam Tujuh Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Foto Laila Ramadani for Radar Majapahit)

Noto Suryo merupakan Pangeran Majapahit di masa pemerintahan Ratu Kencana Wungu berkuasa. 

Makam Pangeran Noto Suryo berada di tengah kompleks Makam Tujuh Troloyo, di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Noto Suryo dimakamkan berdampingan dengan Pangeran Noto Kusumo, Gajah Pramodo, Eyang Sabdo Palon Eyang Noyo Genggong, Polo Putro dan Eman Kinasih.

 Baca Juga: Sejarah Bangunan Majapahit, Gunakan Teknik Bata Gosok Bertanah, Bertahan hingga Ratusan Tahun

Agus, juru pelihara (jupel) makam mengungkapkan, di masa hidupnya, Pangeran Noto Suryo dikenal memiliki keahlian dalam hal spiritual dan bidang seni.

Seperti seni tari yang dikhususkan bagi keluarga kerajaan.

”Pangeran Noto Suryo merupakan tangan kanan Ratu Kencana Wungu pada masa pemerintahannya,” tutur pria 50 tahun, Senin (18/3).

Bangunan atap pada Makam Tujuh Troloyo berupa cungkup.

Di setiap makam tujuh Troloyo juga terdapat payung Majapahitan.

Nisan makam terbuat dari batu andesit dan ditutup kain kuning bermotif Surya Majapahit.

”Cungkup ini dibangun sekitar tahun 1958, bersamaan dengan dibangunnya Makam Raden Ayu Kencana Wungu,” jelasnya.

Peziarah yang datang di Makam Pangeran Noto Suryo tak sekadar mengirim doa.

Namun, tidak jarang dari mereka napak tilas dan berdiam diri di area makam.

Saat mengunjungi kompleks pemakaman peziarah tidak dipungut biaya.

Peziarah yang melakukan doa atau ritual keagamaan berasal dari Mojokerto Raya, Kediri, Surabaya, Malang, Ponorogo, hingga Jogjakarta.

”Bahkan ada yang sampai menginap di makam jika terlalu larut sampai di sini,” pungkas Agus. (annisa fadilah)

 

Editor : Moch. Chariris
#troloyo #majapahit #ratu kencono wungu