RADARMAJAPAHIT - Tradisi merupakan kekayaan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.
Salah satunya tradisi ruwah desa atau syukuran sebelum bulan suci Ramadan.
Tradisi itu biasa dilakukan warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.
Ruwah desa di Lingkungan Kemasan, biasa disebut dengan tradisi nyadran.
Tradisi nyadran dilaksanakan sebagai bentuk pembersihan desa atau ruwah desa dan penghormatan kepada leluhur di Lingkungan Kemasan.
Tradisi ini berupa arak arakan yang mengelilingi Lingkungan Kemasan dengan membawa nasi tumpeng dan serabi.
Serta diikuti oleh warga setempat dan perangkat desa .
”Arak-arakan tradisi nyadran diiringi dengan tarian kuda lumping (jaranan) dan reog,” ungkap Sutarip, 83, juru pelihara Makam Lingkungan Kemasan, Jumat (15/3).
Setelah mengelilingi desa, arak-arakan menuju makam Mbah Jimat di pemakaman umum Lingkungan Kemasan dan melakukan ritual selanjutnya.
Yakni, ritual Majapahitan dipimpin sesepuh Lingkungan Kemasan.
Setelahnya, tumpeng dan serabi dibagikan kepada warga setempat.
"Mbah Jimat merupakan leluhur yang dikeramatkan warga setempat, tidak heran jika warga setempat melakukan tradisi nyadran di makam Mbah Jimat sebagai bentuk penghormatan," imbuhnya.
Tradisi nyadran biasa digelar di pelataran Makam Mbah Jimat, tepatnya di sisi utara makam Mbah Jimat.
Tradisi ini dilakukan setiap tahun menjelang Ramadan, dan dihadiri masyarakat setempat.
Di sisi Makam Mbah Jimat, terdapat pula 13 prajurit atau pelayan Mbah Jimat.
Makam Mbah Jimat banyak dikunjungi peziarah pada malam hari.
Peziarah yang datang ke makam berasal dari berbagai daerah. Seperti Mojokerto, Banyuwangi, Jakarta, hingga Bali.
”Peziarah yang datang ke Makam Mbah Jimat tidak hanya melakukan doa atau ritual keagamaan, melainkan bermacam-macam tujuannya,” tandasnya. (zukria amelia).
Editor : Moch. Chariris