Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Penyebar Agama Islam, Mbah Tulak dan Tradisi Alung-Alung, di Brayublandong, Dawarblandong, Mojokerto

Moch. Chariris • Jumat, 15 Maret 2024 | 04:48 WIB

 

MAJAPAHITAN: Bangunan pendapa Makam Mbah Tulak di Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit).
MAJAPAHITAN: Bangunan pendapa Makam Mbah Tulak di Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit).

RADARMAJAPAHIT - Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto menyimpan banyak cerita peradaban pada masa penyiaran agama Islam di tanah Jawa.

Gunung Kunci, Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, memiliki dua makam yang hingga kini dikeramatkan warga setempat.

MENGAMATI: Peziarah sedang mengamati Makam Mbah Tulak sambil merapikan makam. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit).
MENGAMATI: Peziarah sedang mengamati Makam Mbah Tulak sambil merapikan makam. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit).

Yakni, Makam Mbah Tulak dan istrinya, Nyai Fitri Pitaloka.

Kadin, 64, sesepuh Desa Brayublandong mengungkapkan, Mbah Tulak merupakan sesepuh yang mbabah Desa Brayublandong, serta menyebarkan agama Islam di desa tersebut.

”Dahulu sebelum agama Islam berkembang pesat seperti saat ini, masyarakat Desa Brayublandong menganut agama Hindu-Buddha,” ujar Kadin, Kamis (14/3).

Kehadiran Mbah Tulak di Desa Brayublandong beriringan dengan kedatangan Raden Supanji atau Mbah Haji dalam menyiarkan agama Islam di Desa Temuireng.

Makam Mbah Tulak ditemukan tahun 1700-an oleh warga setempat.

Awal penemuan makam tersebut hanya berupa gundukan batu.

Namun, makam tersebut sudah dilakukan direnovasi dua kali, masing-masing tahun 2019 dan 2024.

Peziarah yang datang untuk melakukan ritual keagamaan atau doa biasanya pada alam Kamis atau malam Jumat.

Mereka datang dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Malang, Lamongan hingga Tuban.

Kadin menambahkan, setelah ditemukannya Makam Mbah Tulak, warga setempat juga biasa mengadakan tradisi alung-alung dipimpin sesepuh desa.

Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur atas hasil perkebunan dan perternakan.

Serta untuk penghormatan kepada Mbah Tulak.

”Tradisi ini dilakukan pada Kamis Pon dan Jumat legi,” imbuhnya.

Hingga saat ini tradisi alung-alung masih diperthankan.

Tradisi tersebut dilakukan warga setempat di Makam Mbah Tulak dengan membawa ayam panggang, ketupat, dan lepet.

Hal ini dilakukan setiap awal hujan turun, dan doa yang diucapkan sesepuh desa menggunakan bahasa Jawa.

”Meski doa menggunakan bahasa Jawa dan diiringi dengan suara sinden Jawa, tetapi tujuan dari doa tersebut ditujukan kepada AllahSWT untuk memohon pertolongan,” pungkasnya. (zukria amelia)

Editor : Moch. Chariris
#mojokerto #dawarblandong #penyebar agama islam