RADARMAJAPAHIT - Makam Mbah Kariman atau yang memiliki nama asli Raden Arya Suyono merupakan salah satu pemuka agama di Dusun Daleman, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Kawasan Makam Mbah Kariman pada awalnya hanya dikelilingi batu andesit.
Satu nisannya juga terbuat dari batu andesit.
Namun, tahun 2008 kawasan makam dibangun cungkup, dan di sisi utara makam terdapat musala.
H Imam Muslim, 59, juru pelihara makam mengungkapkan, Mbah Kariman merupakan salah satu murid atau santri Pangeran Diponegoro.
”Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap oleh Belanda, maka santrinya menyebar ke seluruh tanah Jawa. Salah satunya Mbah Kariman,” tuturnya, Kamis (14/3).
Mbah Kariman merupakan teman dari Mbah Imam Sudjono, sekarang di makamkan di Gunung Kawi, Malang.
Muslim menuturkan, semasa hidup Mbah Kariman dikenal memiliki kemampuan dalam menyembuhkan orang sakit melalui metode suwuk. ”Kalau ada orang sakit cukup ditiup saja (disuwuk) oleh Mbah Kariman langsung sembuh,” ungkap pria 59 tahun tersebut.
Meski Mbah Kariman tidak memiliki keturunan, namun banyak peziarah mengira Imam Muslim adalah keturunannya.
”Saya menyangkal pernyataan jika saya merupakan keturunan Mbah Kariman,” jelasnya.
Pada setiap malam Jumat di kawasan makam diadakan istighotsah rutin.
Peziarah yang datang berasal dari berbagai daerah. Seperti Mojokerto Raya, Jombang, Kediri, hingga Surabaya.
”Peziarah yang datang untuk ritual doa di makam Mbah Kariman mayoritas dari Mojokerto,” pungkasnya. (annisa fadilah)
Editor : Moch. Chariris