Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sejarah Majapahit, Tokoh Penasihat Tertua Era Ratu Kencana Wungu, Sabdo Palon dan Noyo Genggong

Moch. Chariris • Jumat, 15 Maret 2024 | 02:03 WIB

 

KERAMAT: Peziarah mengamati Makam Tujuh Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)
KERAMAT: Peziarah mengamati Makam Tujuh Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Makam Tujuh Troloyo di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto menyimpan banyak sejarah.

Di antaranya terdapat dua makam yang diyakini sebagai penasihat utama Kerajaan Majapahit di era pemerintahan Ratu Kencana Wungu.

BERSEJARAH: Pengunjung keluar dari Makam Tujuh Troloyo di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)
BERSEJARAH: Pengunjung keluar dari Makam Tujuh Troloyo di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Laila Ramadani for Radar Majapahit)

Ia memiliki dua penasihat utama di masa kepemimpinannya.

Yakni, Eyang Sabdo Palon dan Eyang Noyo Genggong.

Tidak hanya sebagai penasihat Kerajaan Majapahit, mereka juga dikenal sebagai punakawan atau pelayan kerajaan pada masa itu.

Dua penasihat utama ini dikenal sebagai penasihat tertua yang mahir dalam segala hal.

”Eyang Sabdo Palon dan Eyang Noyo Genggong merupakan penasihat kerajaan yang diutamakan pada era pemerintahan Ratu Kencana Wungu karena keahliannya,” ujar Gading, pengunjung asal Jogjakarta, Rabu (13/3).

Tidak hanya makam penasihat, di dalam cungkup ini juga terdapat lima makam pangeran Kerajaan Majapahit.

Di sisi selatan terdapat tiga makam pangeran.

Masing-masing Pangeran Noto Suryo, Noto Kusumo, dan Gajah Pramodo.

”Sedangkan di sisi barat terdapat dua makam pangeran lainnya, Polo Putro dan Eman Kinasih,” ungkap Agus, juru pelihara (jupel) Makam Tujuh Troloyo.

Peziarah yang melakukan  doa atau ritual keagamaan berasal dari berbagai daerah. Seperti Mojokerto, Kediri, Probolinggo, hingga Jogjakarta.

”Banyaknya peziarah berdatangan dengan maksud tertentu, ada yang berdoa, menggelar ritual dan mencari informasi sejarah,” pungkas Agus. (laila ramadani)

Editor : Moch. Chariris
#troloyo #makam tujuh #ratu kencono wungu