RADARMAJAPAHIT- Setiap daerah menyimpan latar belakang dan sejarah yang ditulis para tokoh di masa lampau.
Tak jarang, tokoh tersebut memiliki keterkaitan dengan raja atau tokoh yang sedang berkuasa saat itu.
Dulu, Pasar Pon atau sekarang lebih dikenal sebagai Pasar Cakarayam, dikabarkan menjadi sebuah area makam.
Ketika akan dibangun pasar semua makam lantas direlokasi.
Pada umumnya, jenazah akan hancur dilebur tanah.
Tetapi, tidak dengan jasad Ki Ageng Sedho.
Karena peristiwa ini kemudian diberi nama Ki Ageng Sedho.
Makamnya lalu direlokasi di Lingkungan Cakarayam Gang Lima, Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.
Ki Ageng Sedho adalah tokoh yang dikenal sakti berasal dari Jawa Barat.
Dia disebut-sebut masih ada kaitannya dengan Prabu Siliwangi.
”Tidak cuma babat alas daerah sini (Mentikan) beliau juga dikenal dengan kesaktiannya,” ujar Beno Nugraha, juru pelihara Makam Ki Ageng Sedho, Sabtu (9/3).
Selayaknya makam kuno, tak sedikit, di sini peziarah melakukan ritual tertentu.
Ada yang membawa sesajen, dupa, kembang, dan lain sebagainya.
Tak sedikit pula Makam Ki Ageng Sedho menjadi perantara bagi orang yang ingin memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, demi hajat tertentu.
Dulu, lanjut Beno, sekitar tahun 1970-an, warga sekitar makam sering melakukan upacara ritual.
Seperti, membawa tumpeng, sesajen, atau sekadar jajanan pasar bagi warga yang kurang mampu.
”Tapi, sekarang hanya warga yang memiliki hajat tertentu baru memberi tumpeng, sesajen, atau semacamnya,” paparnya.
Kondisi makam yang berada di tengah pemukiman warga ini tampak terawatt, bahkan sudah melalui pemugaran.
Dari semula nisan kayu menjadi batu. Dulunya rata dengan tanah kini menjadi lebih tinggi.
”Salah satu alasan Ki Ageng Sedho tidak mau memberitahu nama aslinya karena sudah terlanjur masyhur dengan nama Ki Ageng Sedho,” imbuh Beno.
Baca Juga: Ronda Prajurit Majapahit di Tengah Pelarian Ki Onggo Kusumo, Perahu dan Bende Mendadak Hilang
Bukan hanya warga Mojokerto yang berkunjung di sini.
Tak jarang peziarah luar daerah datang untuk sekedar napak tilas atau wisata religi.
”Soal niat, semua kembali ke masing-masing peziarah,” tandasnya. (awaludin ibnu)
Editor : Moch. Chariris