RADARMAJAPAHIT - Dusun Gempol, Desa Bangeran, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto menyimpan banyak ulama dalam proses penyebaran agama Islam.
Syekh Abdul Ghofar atau Mbah Aji menjadi salah satu tokoh yang menyebarkan syiar di Dawarblandong.
Tarman, 56, Juru pelihara Makam Mbah Aji menjelaskan, Makam Mbah Aji ditemukan sekitar tahun 1800-an atau era kolonial Belanda.
Awal penemua makam tersebut berada di tengah hutan.
”Makam Mbah Aji direnovasi tahun 1971, dibantu oleh warga setempat. Namun, dana pembangunannya berasal dari jamaah asal Probolinggo,” ungkap Tarman, Selasa (12/3).
Mbah Aji berasal dari Pakistan yang datang ke Indonesia, dengan tujuan membantu syiar agama Islam di Nusantara.
Saat masa perjalanan syiar agama Islam, Mbah Aji sempat menjadi santri dari Sunan Giri atau Muhammad Ainul Yaqin.
Mbah Aji pernah ditunjuk Sunan Giri menjabat sebagai tumenggung di wilayah Sumenep, Madura.
Namun, tawaran tersebut ditolak.
Mbah Aji dan lebih memilih menyiarkan agama Islam di Desa Bangeran dan meninggalkan saudaranya Nyai Tandur.
”Mbah Aji bersama sepupunya, Mbah Ronggo, memilih untuk menyiarkan agama Islam di desa ini,” tutur pria 56 tahun ini.
Pada saat Mbah Aji datang ke Desa Bangeran, wilayah tersebut masih dalam di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Dimana mayoritas warga setempat menganut agama hindu.
Namun, berkat ketelatenan dan kesabaran Mbah Aji menyebarkan agama Islam, akhirnya banyak warga menganut agama Islam.
Saat ini, banyak peziarah yang datang untuk berkunjung dan berkirim doa.
Peziarah yang datang berasal dari berbagai daerah. Seperti Gresik, Probolinggo, hingga Bandung, Jawa Barat.
”Pengajian rutin yang dilakukan oleh peziarah biasanya pada Malam Jumat Pon,” imbuhnya.
Di area makam Mbah Aji terdapat satu makam yang belum diketahui identitasnya.
Tarman berpesan jika datang ke makam harus dengan niat yang baik, dan tetap menjaga kebersihan makam. (zukria amelia)
Editor : Moch. Chariris