Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Cucu Sunan Ampel, Raden Supanji, di Gunung Sengkalan, Desa Temuireng, Dawarblandong, Mojokerto

Moch. Chariris • Selasa, 12 Maret 2024 | 04:51 WIB

 

PEZIARAH: Peziarah sedang mengamati makam Raden Supanji Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit).
PEZIARAH: Peziarah sedang mengamati makam Raden Supanji Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit).

RADARMAJAPAHIT - Penyebaran agama Islam di Nusantara tidak lepas dari peran walisongo.

Sunan Ampel atau Raden Rahmat merupakan salah satu walisongo yang menyiarkan agama Islam di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur.

ASRI: Makam Raden Supanji dikelilingi pepohonan rindang sehingga suasana dimakam sejuk dan dingin. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit).
ASRI: Makam Raden Supanji dikelilingi pepohonan rindang sehingga suasana dimakam sejuk dan dingin. (foto: Bryan Noer for Radar Majapahit).

Keturunan dari Sunan Ampel, tersebar di seluruh tanah Jawa.

Salah satunya adalah Raden Supanji atau Mbah Haji. Mbah Haji merupakan cucu dari Sunan Ampel.

Makam Raden Supanji berada di Gunung Sengkalan, Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Mbah Haji merupakan putra dari Raden Syaifulloh atau Raden Alit dengan Nyai Ageng Anom.

Jalan menuju Makam Raden Supanji, dikelilingi oleh perkebunan yang luas dan subur.

Selain itu, makam tersebut juga dikelilingi oleh pohon asam berukuran besar.

Sehingga membuat lingkungan sekitar pemakaman terasa dingin dan nyaman untuk berdoa atau melakukan ritual keagamaan.

Sampu, 90, juru pelihara makam mengungkapkan, Raden Supanji tidak hanya cucu dari Sunan Ampel.

Tetapi, sekaligus orang yang mbabah Desa Temuireng.

Ia datang ke desa tersebut tidak sendirian, namun bersama dengan istri dan ibu mertuanya.

”Dahulu Raden Supanji mbabah desa ini melalui pertapaan yang cukup panjang,” tambah Sampu, Senin (11/3).

Makam Raden Supanji ditemukan sejak tahun 1.800-an atau sebelum era kolonial Belanda menyerang Indonesia.

Pada awalnya, makam Mbah Haji hanya dibatasi menggunakan bambu.

Namun, pada tahun 2000-an makam tersebut direnovasi oleh warga setempat.

Peninggalan Raden Supanji yang dapat dinikmati warga.

Yakni, berupa tanah perkebunan yang subur, dengan luas tanah lebih dari tiga hektare.

”Tanah perkebunan yang luas ini, merupakan karamah dari Allah melalui Raden Supanji. Kini, lahan tersebut digunakan warga sebagai sumber penghasilan utama,” imbuhnya.

Peziarah yang datang ke Mbah Haji tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi dari berbagai daerah.

Baca Juga: Penasihat Agung Majapahit, Ki Ageng Resi Mayangkoro, Dimakamkan di Modopuro, Mojosari

Seperti, Sidoarjo, Surabaya, hingga Kediri.

Pengajian yang rutin dilakukan oleh masyarakat dan peziarah pada Jumat Legi.

”Peziarah yang datang tidak menentu, tetapi kebanyakan pada siang hari,” pungkas dia. (zukria amelia)

Editor : Moch. Chariris
#sunan ampel #walisongo #dawarblandong