Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Mbah Nur Hamid Sulaiman, Tentara Hizbullah yang Dikenal Memiliki Ilmu Kanuragan dan Ketabiban

Moch. Chariris • Selasa, 20 Februari 2024 | 04:31 WIB
AHLI PENGOBATAN: Foto Mbah Hamid bersama keluarga, di Dusun Bangon, Desa Bleberan, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nur Hidayatul for Radar Majapahit)
AHLI PENGOBATAN: Foto Mbah Hamid bersama keluarga, di Dusun Bangon, Desa Bleberan, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nur Hidayatul for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Terdapat sejumlah tokoh penyebar agama Islam di Mojokerto yang belum banyak diketahui masyarakat.

Salah satunya Mbah Hamid Bin Syuaeb.

Penyebar agama Islam di Desa Bleberan, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

MENGENANG: Peziarah berdoa di depan Makam Mbah Haamid, di Dusun Bangon, Desa Bleberan, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nur Hidayatul for Radar Majapahit)
MENGENANG: Peziarah berdoa di depan Makam Mbah Haamid, di Dusun Bangon, Desa Bleberan, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nur Hidayatul for Radar Majapahit)

Mbah Hamid juga merupakan salah satu tokoh pejuang tentara Hizbullah pada saat perang melawan tentara Belanda.

Mbah Hamid bin Syuaeb berasal dari Rejoso, Jombang. Di Rejoso, nama asli Mbah Hamid adalah Muhammad Zainudin.

Pada masa mudanya Mbah Hamid menimba ilmu agama di berbagai pondok pesantren.

Salah satunya pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Imam Baihaqi Hamid, putra ke-14 Mbah Hamid menceritakan, pada saat tergabung tentara Hizbullah Mbah Hamid bertugas mengagalkan pasukan Belanda yang hendak menyerang Surabaya.

Mbah Hamid dan pasukan Hizbullah lainnya, menghadang rel kereta api menggunakan bebatuan.

Hal tersebut menyebabkan banyak pasukan Belanda yang meninggal.

”Setelah itu, Mbah Hamid menjadi buronan Belanda. Beliau memutuskan melarikan diri ke daerah Mojokerto,” ungkapnya, Senin (19/2).

Mbah Hamid singgah pertama di Makam Mbah Sayyid Sulaiman, Mojoagung, Jombang.

Ia bersembunyi selama 40 hari.

Kemudian melanjutkan perjalan ke arah hutan Wonosalam, Jombang.

Di sana, nama Mbah Hamid berubah menjadi Nur Hamid Sulaiman atau yang akrab dipanggil Mbah Hamid.

”Setelah bersembunyi di Wonosalam, beliau melanjutkan perjalanan menuju Desa Bleberan ini,” jelasnya.

Di Desa Bleberan itulah awal mula Mbah Hamid menyiarkan agama Islam di desa setempat.

Mbah Hamid menikah dengan Nyai Insiyah. Nyai Insiyah merupakan asli warga setempat.

Mbah Hamid menyebarkan agama Islam menggunakan beberapa strategi.

Seperti, mengajak para sesepuh daerah setempat untuk diajari mengaji. Mengajak para pemuda untuk belajar ilmu kanuragan.

Sebab, Mbah Hamid sendiri juga dikenal memiliki ilmu ketabiban.

”Dengan strategi-strategi tersebut membuat banyak warga baik kalangan orang tua maupun pemuda menjadi tertarik belajar agama Islam bersama Mbah Hamid,” tambahnya. (putri fadiyah)

 

Editor : Moch. Chariris
#Bleberan #Kanuragan #tentara #tabib #mbah hamid