Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Terjun di Dunia Politik dan Pemerintahan, Mbah Moenasir Pilih Mundur dari Militer

Moch. Chariris • Selasa, 20 Februari 2024 | 03:25 WIB

 

BERJASA: Peziarah mengunjungi makam KH Moenasir Ali di Dusun/Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nadya Azzahra for Radar Majapahit)
BERJASA: Peziarah mengunjungi makam KH Moenasir Ali di Dusun/Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nadya Azzahra for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT – Jasa KH Moenasir Ali atau Mbah Moenasir terhadap bangsa dan negara, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan Indonesia Republik Indonesia, terbilang cukup besar.

Pejuang berjuluk mayor kiai asal Dusun/Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, bahkan terjun di dunia politik.

PEJUANG: Foto Mbah Moenasir (kiri) bersama teman seperjuangan terpasang di rumahnya di Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari.
PEJUANG: Foto Mbah Moenasir (kiri) bersama teman seperjuangan terpasang di rumahnya di Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari.

Berawal dari bergabungnya Mbah Moenasir ke dalam kabinet 100 menteri yang dibentuk Soekarno.

Mbah Moenasir ditugaskan menjadi Dewan Nasional sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR).

”Dari situlah Mbah Moenasir tertarik menjadi politikus dan masuk pemerintahan,” kata Agus Amrozi Muntasir, putra ke-12 Mbah Moenasir, Sabtu (17/2).

Pasca menjadi anggota DPR GR, karir Mbah Moenasir di dunia politik berlanjut hingga orde baru.

Dia lantas pensiun dari kemiliteran dan terjun menjadi anggota DPR RI hingga tahun 1987.

”Mbah Moenasir memutuskan pensiun dini di militer dan tertarik masuk politik,” ungkapnya.

KH Moenasir Ali memiliki dua istri. Masing-masing Muslihah dan Waqiah.

Dari pernikahan pertama dikaruniai dua orang anak, dan saat ini sudah wafat. Sedangkan dari istri kedua memiliki 12 anak.

”Mbah Moenasir di mata keluarga merupakan sosok yang tegas dan bijaksana dalam mendidik semua anaknya,” tuturnya.

Mbah Moenasir wafat tahun 2002 di usia 83 tahun.

Agus menjelaskan, Mbah Moenasir mengalami strok ringan dan dirawat di Jakarta hingga tutup usia.

Mbah Moenasir dimakamkan di pemakaman keluarga, di Dusun/Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

”Dulu waktu wafat Mbah Moenasir dimakamkan secara militer,” terangnya.

Dalam area makam keluarga Mbah Moenasir, terdapat makam istri dan anak cucu.

Setiap tahun dilaksanakan Haul Mbah Moenasir dan keluarga.

Meski lokasi makam tertutup, tetapi sejumlah peziarah kerap kali datang untuk berdoa dan mengenang jasa Mbah Moenasir.

”Selain Mojokerto, banyak peziarah datang dari luar kota. Seperti Jombang, Surabaya hingga Blora Jawa Tengah,” tandasnya. (nadya azzahra)

Editor : Moch. Chariris
#mojosari #pejuang #politik