Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Fatmawati, Istri Presiden Soekarno, Pernah Berorasi di Stasiun Mojokerto Tahun 1950

Rizal Amrulloh • Minggu, 18 Februari 2024 | 05:33 WIB

 

SEJARAH: Fatmawati berorasi di Stasiun Mojokerto tahun 1950 saat mendampingi Soekarno menemui rakyat yang menuntut pembubaran Negara Djawa Timur (NDT).
SEJARAH: Fatmawati berorasi di Stasiun Mojokerto tahun 1950 saat mendampingi Soekarno menemui rakyat yang menuntut pembubaran Negara Djawa Timur (NDT).

RADARMOJOKERTO - Selain pernah tinggal dan bersekolah di Mojokerto semasa kecil, Ir Soekarno juga pernah menapakkan kaki di bumi Majapahit kala menjadi Presiden RI.

Jejak sang proklamator kembali terukir di sejumlah tempat.

SANG PROKLAMATOR: Tak hanya menempuh pendidikan, Bung Karno beberapa kali ke Mojokerto semasa menjadi presiden.
SANG PROKLAMATOR: Tak hanya menempuh pendidikan, Bung Karno beberapa kali ke Mojokerto semasa menjadi presiden.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, pasca proklamasi kemerdekaan, Soekarno tercatat beberapa kali berkunjung ke Mojokerto.

Sosok berjuluk putra sang fajar ini kembali ke kota yang menjadi tempat tinggal masa kecilnya setelah diangkat sebagai Presiden RI.

’’Pada tahun 1946, Soekarno pernah kembali ke Mojokerto,’’ papar Yuhan.

Menurut Yuhan, kedatangan tokoh bernama lahir Koesno ini lantaran Surabaya telah jatuh di tangan musuh.

Sehingga, ibu kota karesidenan harus diboyong ke Mojokerto.

Tak hanya pemerintahan, markas pejuang kemerdekaan juga dipusatkan di Mojokerto saat pecahnya perang revolusi.

’’Soekarno datang untuk bertemu dengan para pejuang,’’ tandas pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Dikatakannya, waktu kedatangan Soekarno di Mojokerto masih belum dapat dipastikan.

Yang jelas, tutur Yuhan, tokoh yang akrab dikenal Bung Karno ini singgah di tengah perjalanan menuju Malang.

Rombongan Presiden yang menggunakan kereta api (KA) tersebut bertujuan untuk menghadiri sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang digelar 25 Februari-6 Maret 1946. 

’’Saat kereta sampai di Stasiun Mojokerto, Soekarno turun dan menuju alun-alun,’’ tandasnya.

Kabar kedatangan Soekarno disambut dengan animo tinggi dari masyarakat.

Di Alun-Alun Kota Mojokerto, sang orator ulung ini berpidato di hadapan massa terkait upaya perundingan yang tengah ditempuh guna menghidari kontak senjata.

Yuhan mengatakan, meski tidak berlangsung lama, namun kembalinya Soekarno di Mojokerto meninggalkan jejak sejarah terkait perjuangan merebut kembali kemerdekaan.

Dan, orasi dari Bung Karno juga mampu membius ribuan warga dan pejuang yang hadir langsung di alun-alun.

Tak hanya sekali, putra dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai kembali datang ke Mojokerto pada tahun 1950.

Kala itu, ungkap Yuhan, Soekarno singgah saat perjalanan menuju ke rumah keluarganya di Blitar.

Namun, lawatan Bung Karno langsung disambut dengan demonstrasi setibanya di Stasiun Mojokerto.

Baca Juga: Jejak Tumenggung Prawiro Seno, Tokoh yang Berjasa dalam Kerajaan Majapahit

Massa yang berkumpul menuntut agar presiden membubarkan Negara Djawa Timur (NDT).

’’Soekarno kemudian meminta agar rakyat bersabar karena dirinya akan segera membuat keputusan terkait NDT,’’ urai penulis buku Revolusi di Pinggir Kali, Pergerakan di Mojokerto 1945-1950 ini.

Tak seperti biasanya, Soekarno yang turut didampingi Fatmawati tidak banyak menyampaikan pidatonya.

Justru, ibu negara yang menyampaikan orasi tentang peran perempuan yang diajak ikut berpartisipasi untuk mengisi masa kemerdekaan.

 

Editor : Moch. Chariris
#bung karno #kemerdekaan #proklamator