RADARMAJAPAHIT - KH Moenasir Ali lahir pada tanggal 2 Maret 1919 di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
Dia lahir dari pasangan H Ali dan Hj Hasanah. Dimana, sang ayah merupakan seorang kepala desa terkemuka di daerahnya.
KH Moenasir Ali pernah menempuh pendidikan berbasis pendidikan Belanda dan pesantren.
Saat masa kanak-kanak, dia masuk sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS) HIS atau yang setara dengan sekolah dasar.
Kemudian pendidikannya dilanjutkan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) setara dengan sekolah menengah pertama yang didrikan Belanda.
Setelah itu, dia mulai mengeyam pendidikan berbasis pesantren.
Mbah Moenasir sapaan akrabnya, beberapa kali pindah pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya.
”Mbah Moenasir pernah mondok di beberapa pesantren,” ungkap Agus Amrozi Muntasir, putra ke-12 Mbah Moenasir, Sabtu (17/2).
Seperti Pondok Pesantren Al-Islah Trowulan, Pondok Pesantren di Sarang hingga di salah satu pondok pesantren di Rembang.
Agus Amrozi menceritakan, ketika Mbah Moenasir di Pondok Pesantren Rembang, saat menikmati waktu liburan di pantai, dia bertemu dengan tentara Belanda dan menerima ketidakadilan serta kekerasan.
Hal tersebut menjadi pemicu kebencian dari Mbah Moenasir terhadap Belanda.
Agus menambahkan, setelah itu Mbah Moenasir pindah mondok ke Magelang, tak lama ayahnya meninggal dunia.
Kemudian Mbah Moenasir melanjutkan nyantri di Tebuireng Jombang.
”Di pondok Tebuireng itulah Mbah Moenasir mendapat perintah jihad untuk melawan penjajah bersama para santri lainnya,” katanya.
Mbah Moenasir kemudian mengikuti beberapa organisasi di bawah naungan NU. Mbah Moenasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di bidang kemiliteran.
Dia juga aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi Komandan Batalyon Condromowo.
Agus Amrozi Muntasir menceritakan, Mbah Moenasir ketika melakukan perlawanan di Surabaya, aksinya diketahui pasukan Belanda.
Dia dan pasukan lainnya dikepung hingga daerah Pacet Mojokerto. Dari sinilah ketengangan terjadi.
Mbah Moenasir sebagai salah satu komandan lantas menyusun strategi dengan meniru strategi Nabi Muhammad dalam perang uhud.
Di antara memerintahkan para pasukan untuk tetap tenang dan mencari celah terlemah dari pasukan Belanda untuk melarikan diri.
Dengan strategi tersebut Mbah Moenasir dan pasukannya dapat meloloskan diri dari kepungan musuh.
”Berkat strategi itu Mbah Moenasir dijuluki dengan sebutan mayor kiai, karena memiliki cara berpikir seperti seorang kiai,” tandasnya.
Berkat kecerdasan dan keberaniannya, Mbah Moenasir mendapat berbagai penghargaan.
Seperti Satya Lentjana Peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II dan Bintang Gerilya.
”KH Moenasir Ali wafat pada hari Jumat tanggal 11 Januari 2002, dan dimakamkan secara militer di pemakaman keluarga,” pungkas Agus Amrozi Muntasir. (putri fadiyah)
Editor : Moch. Chariris