RADARMAJAPAHIT - KH Achyat Chalimy atau yang lebih dikenal dengan Abah Yat adalah salah satu tokoh pejuang kemerdekaan sekaligus pendiri GP Ansor dan Laskar Hizbullah.
Makamnya berada di Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Kini makam Abah Yat dijaga dan dirawat kerabatnya, Dzakiyudin, 31.
Dzakiyudin adalah cucu dari kakak Abah Yat.
Kiai kharismatik asli Kota Mojokerto ini lahir tahun 1918 dari pasangan Hj Marfuah dan H Abdul Halim.
Dia menjadi yatim sejak di dalam kandungan. Sang ibu merupakan pengusaha batik yang sukses pada masanya. Ahyat kecil menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Miji.
Dzakiyudin menceritakan, setelah menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Abah Yat lantas diberikan kepercayaan menjabat sebagai sekretaris Tanfidziyah PC NU Mojokerto.
Saat itu usianya baru menginjak 20 tahun.
Namun, di tengah kesibukannya sebagai sekretaris, KH Achyat Chalimy beserta teman-temannya mendirikan Ansoru Nahdlatoel Oelama (ANO) atau kini disebut Gerakan Pemuda (GP) Ansor.
Antara lain bersama M Thoyib, M Thohir, Sholeh Rusman, Aslan, Mansur Solikhi dan Munasir.
ANO saat itu dibentuk untuk membantu seluruh kegiatan dan program NU. Abah Yat juga dipercaya menjadi Ketua GP Ansor masa khidmat 1940 hingga1942.
”Beliau tidak serta merta dalam mendirikan lembaga ini, namun juga tidak mengambil keuntungan dalam membangun lembaga ini,” ujar Dzaki, sapaan Dzakiyudin.
Bermula dari rasa iba melihat realitas kepedihan rakyat di masa penjajahan Jepang membuat Abah Yat bersama teman-temannya tergerak untuk mendirikan satu organisasi pasukan.
Pasukan itu diberi nama Laskar Hizbullah.
”Pencetus pembuatan organisasi ini adalah beliau, karena merasa bahwa pada saat itu rakyat membutuhkan bantuan untuk melawan sekutu,” ungkapnya.
Selain mendirikan organisasi kemanusiaan, Abah Yat juga membangun lembaga pendidikan.
Kepedulian Abah Yat terhadap pentingnya pendidikan bagi penerus sangatlah tinggi. Oleh karena itu, lanjut Dzaki, Abah Yat kemudian mendirikan sekolah menengah Islam (SMI).
Namun, lembaga ini hanya bertahan 4 tahun. Setelah bubarnya lembaga ini kemudian banyak lembaga yang juga dibangun Abah Yat.
Di antaranya Madrasah Muallimin Muallimat NU, SMP Islam Brawijaya, dan STM Raden Patah.
”Banyak lembaga yang beliau dirikan, namun beliau tak sempat untuk menikmati hasilnya pada saat lembaga ini berkembang pesat,” jelas Dzaki.
Pengunjung makam Abah Yat datang dari Mojokerto Raya, Jombang, dan Surabaya. Di area makam ini juga terdapat musala bagi peziarah beribadah.
Tak hanya itu, di area makam juga terdapat ruang khusus untuk membaca buku.
”Hanya di hari tertentu saja banyak pengunjung yang berziarah. Contohnya, pada saat Haul Abah Yat,” tandasnya. (annisa fadilah)
Editor : Moch. Chariris