RADARMAJAPAHIT – Dusun Sumberaji, Desa Karangjeruk, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto menyimpan sejarah menarik tentang seorang tabib Kerajaan Majapahit bernama Mbah Margo.
Sosok pria yang memiliki keahlian ilmu pengobatan ini dikenal juga sebagai seorang abdi ndalem Majapahit.
Sugiantoro, warga Dusun Sumberaji, Desa Karangjeruk menjelaskan, berdasarkan cerita turun-temurun, dahulu Mbah Margo mbabah alas dusun setempat pada Jumat Pahing di bulan Syaban, tahun 1495 masehi.
Perjalanan hidup Mbah Margo dari Kerajaan Majapahit, hingga menetap di Dusun Sumberaji bertujuan untuk menyendiri dari pusat keramaian.
Bahkan, keahlian dalam ilmu pengobatan tersebut mampu membuat salah satu selir Raja Majapahit menaruh hati kepada Mbah Margo.
”Beliau memilih hidup menyendiri di tempat ini untuk menghindari sejumlah konflik dalam Kerajaan Majapahit. Kemudian, ada salah satu selir Raja rela membuntuti Mbah Margo karena jatuh cinta kepadanya,” ujar pria 55 tahun ini, Minggu (11/2).
Dia mengungkapkan, makam tersebut ditemukan adanya sepasang batu nisan dan sumber mata air jernih.
Kini peninggalan tersebut dimanfaatkan warga setempat untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti, mandi hingga dikonsumsi.
”Sumber mata airnya mengalir cukup deras hingga saat ini. Bahkan, ketika musim kemarau sumber ini tak pernah mengering,” tuturnya.
Di samping itu, warga umum dan peziarah meyakini adanya khasiat dari sumber mata air di Makam Mbah Margo.
Kedalaman kolam pemandian sumber mata air diperkirakan satu meter.
”Sumber mata air ini dikenal sebagai tirto margo yang diyakini mampu menyembuhkan penyakit jika berendam di pemandian sumber mata air,” paparnya.
Di samping itu, terdapat sejumlah fasilitas yang dapat dimanfaatkan para peziarah. Di antaranya, musala, kamar mandi, hingga pendapa.
Belakangan, setiap bulan Rabiul Awal, warga Desa Karangjeruk mengadakan peringatan haul Mbah Margo untuk menghormati serta mengenang jasanya.
”Sejumlah fasilitas ini dibangun dari swadaya masyarakat, serta infak dari para peziarah. Tempat ini kerap difungsikan para warga untuk pengajian rutin setiap malam Jumat Pahing,” imbuhnya.
Objek sejarah ini dapat dikunjungi siapa pun. Tak jarang Makam Mbah Margo dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
Seperti Cirebon, Lumajang, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, hingga Jombang.
”Peziarah datang dari luar kota yang ingin menginap, bisa memanfaatkan pendapa untuk beristirahat,” tandasnya. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris