RADARMAJAPAHIT - Di Dusun Keniten, Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, terdapat sebuah kompleks pemakaman yang diyakini sebagai makam dari prajurit Kerajaan Mataram dan Majapahit.
Tepatnya berada tengah areal persawahan warga.
Kompleks makam dari prajurit Kerajaan Mataram tersebut menyimpan sebuah sejarah yang jarang diketahui masyarakat.
Jalil, juru pelihara makam prajurit Kerajaan Mataram menjelaskan, dalam kompleks pemakaman tersebut terdapat enam makam dan dua petilasan berbentuk makam.
Dimana terdapat empat orang prajurit laki-laki dari Kerajaan Mataram. Dua orang dayang dari Kerajaan Mataram yang ditugaskan untuk menyiapkan keperluan para prajurit.
Sedangkan dua petilasan prajurit berasal dari Kerajaan Majapahit.
Empat prajurit Kerajaan Mataram itu, Mbah Sukmo Wijoyo, Mbah Kholidin, Mbah Sabto Aji, dan Mbah Aryo Winoto.
Sementara dua dayang bernama Mbah Putri Titik Sariningsih dan Mbah Putri Mulatsih.
”Dan untuk dua prajurit dari Majapahit yang kembar bernama Raden Panji dan Raden Pandu,” ungkap Jalil, Sabtu (10/2).
Para prajurit tersebut merupakan prajurit gabungan yang ditugaskan menjaga situs peninggalan Kerajaan Majapahit.
Hal tersebut terjadi pada saat runtuhnya Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1389 Masehi.
Awal mbabah daerah tersebut, kata Jalil, para prajurit dari Mataram kesulitan dalam menguras air yang menggenangi rawa.
Namun, hanya Raden Panji dan Raden Pandu lah yang dapat melakukan.
Awal para prajurit datang, daerah tersebut masih berupa rawa-rawa. Mereka lantas bekerja sama untuk membuka sebuah pemukiman.
”Berdasarkan cerita dari sesepuh, prajurit kembar dari Kerajaan Majapahit memiliki ilmu yang lebih mumpuni dari pada prajurit lainnya” terangnya.
Diyakini, para prajurit menjaga situs peninggalan Kerajaan Majapahit berupa sejumlah arca. Namun, kini arca tersebut telah diletakkan di Museum Majapahit Trowulan.
”Awal ditemukan dulu ada arca berbentuk manusia dengan posisi tangan bersedekap di perut. Sekarang hanya tersisa dua buah regol dan sebuah lumpang,” tambah Jalil.
Jalil mengungkapkan, selain bertugas untuk menjaga situs peninggalan Kerajaan Majapahit, empat prajurit dan dua dayang datang dengan misi menyebarkan agama Islam di daerah setempat.
Prajurit dan dayang dari Kerajaan Mataram beragama Islam. Namun, dua prajurit kembar dari Kerajaan Majapahit beragama Hindu.
Maka dari itu, kata Jalil, makam para prajurit dan dua dayang dijadikan dalam satu baris layaknya makam Islam pada umumnya.
”Sedangkan makam dari prajurit kembar hanya berupa petilasan,” pungkas pria 70 ini. (putri fadiyah)
Editor : Moch. Chariris