Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kisah Perjalanan Mbah Musthofa, Canggu, dari Pencuri hingga Menjadi Kiai Berilmu Laduni

Moch. Chariris • Jumat, 9 Februari 2024 | 03:36 WIB
KHUSUK: Peziarah berdoa di depan Makam Mbah Musthofa di Dusun Kedung Sumur, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (foto: Wilda Mifta for Radar Majapahit)
KHUSUK: Peziarah berdoa di depan Makam Mbah Musthofa di Dusun Kedung Sumur, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (foto: Wilda Mifta for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Penyebaran agama Islam di Mojokerto, tak luput jasa dari para ulama. Salah satunya Mbah Musthofa atau berjuluk Kiai Tiban.

Mustamin nama asli Mbah Mustofa, konon merupakan salah satu ulama dengan ilmu tingkat tinggi. Baik ilmu agama maupun ilmu kanuragan.

MEGAH: Kondisi bangunan Masjid Al Musthofa di Dusun Kedung Sumur, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (foto: Putri Fadiyah for Radar Majapahit)
MEGAH: Kondisi bangunan Masjid Al Musthofa di Dusun Kedung Sumur, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (foto: Putri Fadiyah for Radar Majapahit)

Mbah Musthofa merupakan putra Ki Singokerto, tak lain adalah lurah di Desa Kedung Sumur. Mbah Mustofa lahir kisaran tahun 1883, di Dusun Kedung Klinter, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Pada masa mudanya, Mbah Musthofa dikenal anak yang nakal dan sering melakukan perbuatan tercela.

Seperti mencuri. Namun hasil curian kemudian dibagikan kepada masyarakat miskin. Hanya saja hal tersebut dianggap meresahkan masyarakat sekitar.

Untuk mengatasi kenakalan Mbah Musthofa, Ki Singokerto lantas mengirim putranya berguru ke berbagai pesantren.

”Mbah Musthofa awalnya dulu memang suka belajar ilmu kanuragan, atau bisa dikatakan ilmu hitam,” ungkap Arif Billah, putra dari salah satu murid Mbah Musthofa, Selasa (6/2).

Mbah Musthofa mendapat ilmu tersebut dari berbagai guru. Ia pernah menuntut ilmu di Pesantren Sidoresmo, Surabaya.

Di sana Mbah Musthofa hanya diperintahkan untuk menabuh beduk penanda salat lima waktu.

”Dulu Mbah Musthofa waktu mondok tidak diajari mengaji, hanya ditugasi menabuh beduk untuk salat lima waktu. Maka ia sering diejek teman-temannya, ilmu apa yang kelak akan ia peroleh kalau hanya ditugaskan menabuh beduk saja. Mbah Musthofa pun menjawab, kalau ia hanya menaati perintah gurunya,” tuturnya.

Hanya satu tahun di Pesantren Sidoresmo, Mbah Musthofa pindah ke Pati, Jateng. Di sana ia tidak pernah diajari mengaji oleh gurunya.

Setiap hari ia ditugasi untuk menata bangku untuk santri mengaji. Karena merasa sedih, ia memutuskan untuk menguping pengajian dari atas genting.

Pada suatu hari ia tertidur dan bertepatan sang guru keluar setelah pengajian. Sang guru pun marah mengetahui kejadian tersebut.

Mbah Musthofa pun meminta maaf dan menyampaikan alasannya, hanya karena ingin mengaji. Mendengar hal tersebut, sang guru mengusir Mbah Musthofa sambil mengatakan: kalau begitu ambil semua ilmuku.

”Ucapan kiai itulah yang menjadi sebab Mbah Musthofa memperoleh ilmu laduni. Seketika ia memiliki ilmu tingkat tinggi. Ia pandai membaca kitab kuning,” jelasnya.

Kemudian Mbah Musthofa pindah ke pesantren Mbah Yai Dasuki di Krian. Di sana ia diajari ilmu Tarekat Naqsabandiyah Qodiriyah.

Setelah itu, Mbah Musthofa disuruh pulang untuk mengembangkan ilmu agama di desanya. ”Setelah pulang mondok, Mbah Musthofa minta dibangunkan sebuah masjid oleh Ki Singokerto. Dan setelah itu, banyak murid yang berguru ke Mbah Musthofa,” imbuhnya.

Editor : Moch. Chariris
#kiai #Canggu #musthofa #jetis