RADARMAJAPAHIT - Dusun Seroyo, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, menyimpan wisata religi tak lain makam seorang penyiar agama Islam di daerah Mojokerto.
Tempat ini dikenal masyarakat sebagai Makam Mbah Taslim. Makam Mbah Taslim berada di dalam pendapa yang dibangun khusus. Bangunan pendapa terdapat makam kerabat dekat dan beberapa murid dari Mbah Taslim.
Di dalam area utama terdapat enam makam yang berjajar. Yakni, Makam Mbah Taslim, Mbah Ishaq, Mbah Puger, Mbah Putri, Mbah Nur Aziza dan Mbah Mustofa.
”Mbah Taslim tidak menikah. Jadi yang dimakamkan di dekat Mbah Taslim itu kerabat dekatnya,” ungkap Ahmad, warga, Senin (29/1).
Di luar area utama Makam Mbah Taslim terdapat pula banyak makam yang diyakini merupakan makam murid Mbah Taslim. Batu nisan yang ada atas makam di area ini, tidak ada yang menuliskan nama dan tahun kematian.
”Kalau nama-nama tidak tertulis di atas batu nisan. Makam yang ada di luar itu murid atau pengikuti Mbah Taslim,” imbuh Ahmad.
Dia menjelaskan, Mbah Taslim datang ke wilayah Mojokerto dan masuk di Dlanggu sekitar tahun 1889. Pada saat itu, Mbah Taslim mendirikan pesantren dan menyebarkan agama Islam di wilayah Dlanggu.
Pria 65 tahun ini menambahkan, Mbah Taslim merupakan tokoh sufi atau ahli tasawuf. ”Awalnya dulu ada musala panggung yang digunakan untuk mengaji dan menyiarkan agama Islam,” ujarnya.
Dulunya, lanjut dia, Makam Mbah Taslim hanya berupa gubuk sederhana. Hingga pada tahun 2017 makamnya direnovasi. Kini bangunan makamnya bernuansa Majapahitan dengan ciri khas bangunan dari bata merah dan dikelilingi pagar.
”Mbah Taslim dulu itu orang yang mbabah Dusun Seroyo yang awalnya gelap, lalu dibersihkan,” tambahnya.
Selain makam, di sekitar area terdapat pula sebuah sumur kuno. Sumur tersebut diyakini dulunya sebagai tempat wudu yang saat ini banyak dipakai peziarah. Air dari sumur kuno tersebut diyakini memiliki khasiat.
”Beberapa peziarah mengambil air yang ada di sumur ini. Sumber airnya dapat diminum langsung,” terangnya.
Peziarah yang datang ke Makam Mbah Taslim datang dari berbagai daerah. Misalnya, Mojokerto, Kediri, Pekalongan, Banyuwangi hingga Banten. Peziarah yang datang tanpa dipungut biaya, tak jarang peziarah datang di malam hari.
”Kalau malam Jumat Legi peziarah yang datang lebih banyak dari biasanya,” tandasnya. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris