RADARMAJAPAHIT - Proses pemulangan tawanan Jepang dari Mojokerto dilakukan dengan menggunakan armada KA.
Diberangkatkan dari PG Gempolkrep, mesin lokomotif menarik dua gerbong menuju Kota Malang.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, perjalanan KA yang mengangkut tawanan Jepang menuju Malang dilakukan sekitar Maret 1946.
Namun, jalur yang dipilih adalah melalui Sidoarjo karena di Surabaya masih terjadi konflik bersenjata. Para tawanan dimasukkan ke dalam gerbong di PG Gempolkrep.
Proses pemulangan tersebut juga disertakan dengan logistik yang sebelumnya diangkut dari Surabaya. ”Selanjutnya kereta diberangkatkan menuju ke Stasiun Lespadangan,” katanya.
Sesuai rencana, lokomotif akan menempuh perjalanan melintasi jalur KA Perning hingga Stasiun Krian. Kemudian dilanjutkan menuju Stasiun Tarik menuju Sidoarjo dan Malang yang menjadi titik pemberhentian terakhir.
Namun, sebut Yuhan, perjalanan sempat terhambat saat KA baru tiba di Stasiun Lespadangan. Karena saat itu pasukan Hizbullah Mojokerto tiba-tiba meminta masinis untuk menghentikan kereta.
”Di Stasiun Lespadangan hanya berhenti sejenak,” ungkap dia. Kereta kembali melanjutkan perjalanan setelah satu gerbong dilepaskan oleh anggota Hizbullah Mojokerto.
Yuhan mengatakan, gerbong yang ditanggalkan dari rangkaian tersebut merupakan logistik berupa uang dan kain. ” Gerbong logistik tersebut kemudian dibawa balik ke PG Gempolkrep,” imbuh dia.
Menurutnya, kain dimanfaatkan untuk pakaian pasukan Tentara Rakjat Djelata (TRD). Sedangkan uang diserahkan kepada Dewan Perjuangan Daerah (DPD) Karesidenan Surabaya.
”Sementara gerbong yang berisi tawanan Jepang melanjutkan perjalanan hingga Malang untuk kemudian dipulangkan ke negeri asalnya,” pungkas Yuhan.
Editor : Moch. Chariris