RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM - Setelah pendaratan, pesawat B-17 disiagakan di lapangan udara Karangdiyeng. Namun, saat pasukan Jepang datang, hanya satu armada yang bisa mengudara karena mengalami kerusakan.
Ayuhanafiq menambahkan, para awak pesawat bomber sempat bermalam beberapa waktu di Kota Mojokerto. Namun, hari-harinya disibukkan dengan kondisi pesawat yang rupanya mengalami kerusakan saat pendaratan. ”Perbaikan harus segera dilakukan agar pesawat bisa terbang kembali jika sewaktu-waktu Jepang datang menyerang,” sambungnya.
Sayangnya, upaya perbaikan terkendala terkait suku cadang. Satu-satunya cara yakni dengan mendatangkan spare part pesawat dari markas pusat di negeri kangguru, Australia.
Namun, tutur Yuhan, langkah itu tidak memungkinkan untuk dilakukan dengan situasi Perang Dunia II yang sedang berkecamuk. Hingga akhirnya, diputuskan untuk mengorbankan satu pesawat lainnya untuk digunakan komponennya. ”Sehingga hanya satu pesawat yang bisa kembali mengudara,” imbuh penulis buku Revolusi di Pinggir Kali ini.
Perbaikan pesawat akhirnya berhasil dirampungkan pada 17 Februari 1942. Saat itu juga, armada tempur B-17 dilepas landas dari landasan pacu Karangdiyeng untuk memperkuat pertahanan di pangkalan udara di Malang.
Diperkirakan, bangkai pesawat B-17 yang telah diambil suku cadangnya dimusnahkan oleh Jepang saat menembus benteng pertahanan di Mojokerto. Di waktu bersamaan, keberadaan lapangan udara Karangdiyeng juga tidak lagi dioperasikan.
Kini bekas landasan pacu itu menjadi aset milik Pangkalan TNI AU Surabaya. Lahan tersebut juga dijadikan sebagai tempat latihan militer. ”Saat ini juga berdiri pos TNI AU di Karangdiyeng,” pungkas dia.
Editor : Moch. Chariris