WILAYAH Mojokerto tergolong sangat strategis sebagai daerah agraris penghasil komoditi pertanian. Meski pasokan air cukup melimpah dengan sistem irigasi yang baik, namun paceklik pernah dilanda di masa prakemerdekaan. Di awal dekade 1900-an, Mojokerto mengalami krisis pangan hingga mengakibatkan warga kelaparan.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, kondisi paceklik yang terjadi pada awal abad ke-20 diibaratkan seperti ayam mati di lumbung padi. Pasalnya, berdasarkan kondisi geografis di Mojokerto saat itu sebagian besar wilayahnya berupa persawahan. Dan, banyak warga yang bermata pencaharian sebagai petani. ”Masyarakat Mojokerto dapat dikatakan sebagai warga yang makmur,” terangnya.
Di samping dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, tak jarang warga juga berbagi makanan melalui kegiatan selamatan. Akan tetapi, kondisi tersebut berubah saat semakin masifnya alih fungsi lahan padi.
Itu menyusul pemilik pabrik gula yang ada di Mojokerto memperluas sewa lahan pertanian untuk dijadikan perkebunan tebu di kisaran 1903. ”Awalnya hanya 10 persen lahan sawah yang boleh digunakan untuk menanam tebu, tapi pemerintah kolonial menyetujui perluasan lahan yang diajukan pabrik gula,” tandas pria yang akrab disapa Yuhan ini.
Hal tersebut, kata dia, tak hanya membuat lahan pertanian padi di desa kian menyusut. Lebih parahnya lagi, perluasan area tanam tebu juga berdampak pada debit air irigasi yang turun sangat signifikan. ”Persawahan milik warga akhirnya mengering,” papar dia.
Yuhan mengatakan, persoalan tersebut pada akhirnya menimbulkan efek domino. Pasalnya, hasil panen padi tak lagi bisa mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat. Dikatakannya, masa paceklik pangan hampir merata terjadi di semua wilayah kawedanan di Mojokerto.
Karena tak sedikit desa sudah kehabisan cadangan pangan. Bahkan, lumbung desa yang biasanya digunakan untuk menyimpan benih padi untuk musim tanam berikutnya pun mengalami kekosongan. ”Karena benih juga ikut habis dimakan,” ulas dia.
Mojokerto akhirnya dilanda krisis pangan. Kondisi masyarakat kian terimpit saat terlilit utang. Yuhan menyebutkan, warga nekat untuk meminjam uang kepada rentenir untuk membeli bahan pangan. ”Uang pinjaman juga dipakai untuk membeli benih padi meskipun dengan bunga tinggi,” imbuhnya.
Tak hanya itu, sebagian warga juga memilih untuk menjual hewan ternak. Terutama kerbau dan sapi yang biasa digunakan sebagai pedati untuk sarana transportasi maupun membajak sawah. Barang bernilai itu itu terpaksa dijual untuk menghindari kelaparan.
”Karena banyak penduduk yang saat itu kondisinya kurus seperti kekurangan gizi,” pungkasnya. (rizal amrulloh/imron arlado)