Mojokerto merupakan pusat Kerajaan Majapahit. Kawasan ini dikenal menyimpan jejak peradaban sejarah nusantara. Petilasan para raja dan tokoh penting di era saat itu bagian dari bukti yang kini masih dikenang masyarakat luas.
Petilasan Raden Wijaya, misalnya. Petilasan ini berada di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, atau biasa di sebut Siti Inggil yang bermakna tanah tinggi. Berkat nilai sejarahnya, situs ini tidak pernah sepi pengunjung.
Tempat yang menyimpan banyak cerita mistis ini sering dikunjungi masyarakat biasa hingga pejabat untuk berdoa. Konon berdoa di tempat ini hajat yang diinginkan akan mudah terkabul. Situs ini ramai dikunjungi pada malam Jumat Legi dan pada bulan Sura.
Di dalam Siti Inggil terdapat lima petilasan. Di batu nisan bertuliskan Raden Wijaya, Garwo Phadmi Ghayatri (permaisuri Raden Wijaya), Garwo Selir Dhoro Pethak, Garwo Selir Dhoro Jinggo, dan Abdi Kinarsih Kaki Regel. Tak hanya itu, di luar petilasan terdapat sanggar pemujaan, dan dua petilasan. Di mana di batu nisan tertulis nama Sapu Jagad dan Sapu Angin. Keduanya merupakan pangawal dari Raden Wijaya.
Nah, Raden Wijaya sendiri memang dikenal sebagai pendiri sekaligus raja pertama kekaisaran Majapahit, tahun 1293-1309 Masehi. Raden Wijaya memiliki gelar Kertarajasa Jayawardhana. Ia wafat pada tahun 1309. Dalam catatan sejarah, Raja bernama asli Sang Nararya Sanggramawijaya menantu Raja Singasari terakhir, Kartanegara.
Namun, makam ini bukan jenazah dari Raden Wijaya, melainkan sebagian abu dari jenazahnya. Sehingga masyarakat menyebutnya sebagai petilasan. (fitriani artanu/moch. chariris)