Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Batalyon Condromowo, "Kucing Belang Telon” yang Lihai Menyusup

Chariris • Jumat, 8 September 2023 | 17:58 WIB
BERSEJARAH: Alun-Alun Wiraraja yang menjadi lokasi penyerahan kedaulatan  kemerdekaan RI di wilayah Mojokerto dari Belanda. (rizal amrulloh)
BERSEJARAH: Alun-Alun Wiraraja yang menjadi lokasi penyerahan kedaulatan kemerdekaan RI di wilayah Mojokerto dari Belanda. (rizal amrulloh)


Condromowo belakangan menjadi akrab di telinga masyarakat. Ya, nama dari kesatuan batalyon pada masa revolusi kemerdekaan ini dijadikan rujukan sebagai maskot resmi Kota Mojokerto di ajang Porprov VIII 2023. Pasukan penyusup berlambang kucing belang telon ini digambarkan menjadi figur yang dinamakan Cak Condro.






Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, Batalyon Condromowo semula merupakan bagian dari Laskar Hizbullah. Setelah terlibat pertempuran hebat dengan pasukan kolonial di wilayah Mojokerto selatan di awal 1949, pasukan yang dipimpin Mayor Munasir ini mundur ke Jombang. Di kota santri inilah, pasukan pejuang ini mencetuskan nama Batalyon Condromowo. ”Nama Condromowo digunakan sejak 8 April 1949,” tandasnya.





Julukan baru tersebut seiring dengan pembentukan kekuatan baru hasil dari merekrut santri dari Pondok Tebuireng dan pesantren lainnya di Jombang. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, perekrutan anggota dilakukan untuk menggantikan para pejuang yang gugur di medan pertempuran di Mojokerto selatan.





Dalam masyarakat Jawa, Condromowo merupakan kucing belang telon. Tiga warna bulu melambangkan tiga kekuatan. Meliputi kekuatan semangat, kekuatan fisik, serta kekuatan senjata. ”Layaknya kucing, anggota Batalyon Condromowo juga memiliki sikap awas dan waspada,” ulasnya.





Karena bukan kategori pasukan tempur, anggota Batalyon Condromowo membekali diri dengan senjata ringan. Itu pun, kata Yuhan, hanya sepertiga dari keseluruhan pasukan yang dipersenjatai. ”Karena tugasnya Condromowo bukan kompi tempur, tapi lebih pada territorial troops,” papar penulis buku Garis Depan Pertempuran Hizbullah 1945-1950 ini.





Selama wilayah Mojokerto diduduki Belanda, Batalyon Condromowo memilih bermarkas di perbatasan antara Mojokerto dan Jombang. Pasukan berlambang kucing belang telon ini juga memiliki kompi khusus untuk menyusup ke wilayah musuh. ”Salah satu komandan kompinya adalah Abah Yat (Kiai Achyat Chalimy),” papar dia.





Yuhan mengatakan, Abah Yat berperan menjadi kompi penghubung untuk mengintai wilayah teritorial yang dikuasai kolonial. ”Akhirnya, mereka (Kompi Condromowo) hampir setiap malam menyusup keluar-masuk ke dalam kota untuk konsolidasi. Peran konsolidator itulah yang dilakukan Abah Yat,” tandas dia. (rizal amrulloh/imron arlado)





Photo
Photo
PEJUANG: Kiai Achyat Chalimy yang semasa hidup pernah menjadi komandan kompi dari Batalyon Condromowo. (rizal amrulloh)










Photo
Photo
Editor : Chariris