Deretan bangunan di sepanjang Jalan Hayam Wuruk Kota Mojokerto masih berdiri kukuh hingga saat ini. Meski kondisinya tampak kurang terawat, tetapi bangunan bergaya Eropa itu belum banyak berubah sejak awal didirikan. Di masa kolonial, kawasan di tepi Sungai Brantas itu merupakan hunian elite yang jadi tempat tinggal bagi Administreur Suikerfabriek Sentanen Lor atau kepala pabrik gula pabrik gula (PG).
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, keberadaan rumah dinas administrator itu tidak lepas dari pendirian industri gula di Mojokerto. Pada tahun 1836, seorang taipan bernama Gerald Joaquin Eschauzier mendirikan pabrik gula di sisi selatan Sungai Brantas, Kota Mojokerto.
Pabrik tersebut kemudian dinamakan Sukerfabriek Sentanen Lor. ’’Namanya disesuaikan dengan lokasi pabrik gula yang berada di kampung Sentanan lor (utara),’’ ulasnya.
Dijelaskannya, industri penghasil gula itu selanjutnya berkembang pesat. Sehingga, pengusaha berdarah Belanda itu memutuskan untuk memperluas bisnisnya. Sejumlah pabrik gula pun didirikan di berbagai titik lainnya di Mojokerto.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, pabrik yang didirikan antara lain PG Brangkal, Kecamatan Sooko; PG Dinoyo, Kecamatan Jatirejo; serta PG Bangsal dan PG Gempolkerep, Kecamatan Gedeg.
Semua pabrik gula tersebut dinaungi NV Sentanen Lor, Brangkal en Dinojo. Holding company yang pengaturan administrasinya berpusat di Belanda itu juga dikenal dengan Eschauzier Concern. ’’Tidak hanya pabrik gula, saat itu Eschauzier Concern juga mendirikan rumah sakit dan gedung pertemuan sebagai bagian dari usahanya,’’ beber Yuhan.
Untuk memfasilitasi para petinggi di perusahaan gula, maka disiapkan hunian di Jalan Brantas atau kini berganti nama menjadi Jalan Hayam Wuruk. Yuhan mengatakan, deretan rumah tersebut juga ditinggali orang-orang Eropa lainnya.
Rata-rata adalah para pejabat pemerintahan kolonial maupun pegawai tinggi pada perusahaan asing. ’’Jadi, hunian di Jalan Hayam Wuruk itu dulu merupakan kawasan elite,’’ ulas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.
Pada dekade 1930-an, Eschauzier Concern mengalami dampak krisis ekonomi dunia atau yang dikenal dengan peristiwa malaise. Akibatnya, PG Sumengko dan PG Dinoyo terpaksa dijual. Selang satu dekade berikutnya, PG Sentanen Lor juga sempat berhenti beroperasi karena berkecamuknya perang dunia II.
Puncaknya terjadi saat tentara Jepang berhasil menguasai Mojokerto, industri gula pertama yang didirikan Eschauzier dijadikan untuk kepentingan militer. ’’Kompleks bangunan PG Sentanen Lor kemudian difungsikan sebagai kamp tawanan orang-orang Eropa,’’ tuturnya. (rizal amrulloh/abi mukhlisin)