PENGGUNAAN hingga adaptasi produksi meriam cetbang dilakukan sejumlah kerajaan di tanah Jawa hingga abad ke-18 usai Majapahit runtuh sekitar abad 15. Seiring pengunaannya, meriam cetbang telah melalui sejumlah perang besar. Hingga perkembangan zaman membuat senjata bubuk mesiu ini perlahan ditinggalkan.
Dalam perjalanannya, pemakaian meriam cetbang di era Majapahit telah melalui sejumlah perang besar di era Majapahit. Salah satunya, Perang Regreg atau Paregreg, perang saudara antara istana barat dan istana timur Majapahit yang terjadi pada tahun 1404-1406 Masehi. ”Di era Majapahit, sudah digunakan di sejumlah peperangan. Terkecuali perang Bubat, karena termasuk perang puputan (menolak menyerah dengan bubuh diri massal saat perang). Setelah itu juga digunakan oleh Sultan Agung (Kesultanan Mataram) untuk menyerang (VOC) Batavia,” ungkap Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq.
Menurutnya, penggunaan meriam cetbang di era Majapahit sempat terhenti. Pasalnya, saat itu masyarakat dan para empu Majapahit belum mampu memproduksi bubuk mesiu sendiri. ”Jadi setelah beberapa kali digunakan, mesiu habis. Otomatis pemakaiannya berhenti,” bebernya. Senjata jarak jauh itu kembali bisa digunakan di era kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Setelah putra Tribuana Tungga Dewi tersebut membuka keran diplomatik dengan negeri Tiongkok. Hubungan baik yang dijalin membuat para empu Majapahit belajar hingga mampu meracik mesiu.
”Setelah dilantik, Hayam Wuruk mengirim utusan ke Tiongkok untuk menjalin diplomasi. Kebetulan saat itu penguasa Tiongkok baru berganti dan kedatangan utusan tepat saat pelantikan. Saat itu juga, utusan Majapahit membawa upeti (cenderamata). Hubungan baik itu lalu mengarah pada diplomasi senjata ini. Sehingga para empu bisa belajar memproduksi mesiu,” papar Yuhan.
Tak pelak, pemakaian meriam cetbang pun berlanjut. Bahkan hingga ke pengujung masa runtuhnya Majapahit sekitar abad ke-15. ”Setelah runtuh dan berganti era kerajaan islam, pemakaian meriam untuk perang terus berlanjut. Karena teknologi bukan milik dinasti, tapi milik peradaban atau masyarakatnya,” sebutnya.
Setelahnya, bisa dibilang sejumlah kerajaan mewarisi teknologi meriam era Majapahit. Seperti Kerajaan Demak, Kerajaan Mataram Islam, hingga Keraton Surakarta maupun Jogja. Namun, seiring perkembangan zaman, penggunaan meriam cetbang dan turunannya bertahap mulai ditinggalkan pada abad ke-18.
Hingga sejumlah meriam yang diadaptasi dari meriam cetbang kini dipajang di halaman keraton dan sejumlah museum. ”Di Perang Diponegoro (atau Perang Jawa pada tahun 1825 Masehi), senjata seperti senapan hingga meriam sudah pakai buatan luar negeri. Salah satunya dari Turki. Itu ditandai masuknya pasukan berkuda dari Turki (Utsmani),” tandasnya. (martda vadetya/imron arlado)