Diplomasi Majapahit Menjangkau Asia, Dari Hubungan Politik hingga Perdagangan

Yulianto Adi Nugroho • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 07:50 WIB
JEJAK DIPLOMASI: Figurin atau patung dari tanah berbentuk figur orang asing di Kerajaan Majapahit koleksi Museum Majapahit, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
JEJAK DIPLOMASI: Figurin atau patung dari tanah berbentuk figur orang asing di Kerajaan Majapahit koleksi Museum Majapahit, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

RADAR MAJAPAHIT — Majapahit tidak hanya memiliki jaringan kekuasaan di Nusantara. Kerajaan yang diyakini berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, itu juga membangun hubungan diplomasi dan perdagangan dengan sejumlah kerajaan di Asia.

Jejak hubungan tersebut antara lain tercatat dalam Kakawin Negarakertagama, catatan Dinasti Ming, hingga dokumen Kerajaan Ryukyu di Jepang. Hubungan itu menunjukkan adanya lalu lintas utusan dan perdagangan yang menghubungkan Majapahit dengan berbagai wilayah Asia.

Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia Ninny Susanti Tedjowasono menjelaskan, Negarakertagama mencatat hubungan diplomasi Majapahit dengan kerajaan-kerajaan di Asia dan sejumlah wilayah di Nusantara.

Dalam membangun hubungan regional, Majapahit mengenal konsep Mitra Satata, yang berarti negara sahabat yang memiliki kedudukan setara.

”Ini tentang diplomasi Majapahit dengan negara lain,” ujarnya dalam webinar Hubungan Majapahit dengan Negara Asing yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Menurut Ninny, setidaknya terdapat sembilan negara di Asia yang disebut sebagai Mitra Satata Majapahit. Wilayah tersebut meliputi Syangka atau Siam (Thailand), Ayodhiapura (Ayuthia, pedalaman Thailand), Darmanagari (Ligor, Thailand), Marutma (Martaban di pantai timur Myanmar), Rajapura (Rajjpuri, Thailand), Singhanagari (wilayah di tepi Sungai Menam, Thailand), Campa (Vietnam di perbatasan Kamboja), Kamboja, dan Yawana (India barat).

Jaringan hubungan Majapahit juga membentang ke berbagai wilayah Nusantara. Dalam Negarakertagama, sejumlah daerah di Sumatera disebut memiliki hubungan erat dengan Majapahit.

Wilayah tersebut antara lain Jambi, Palembang, Karitang, Teba, Dharmasraya, Minangkabwa, Siyak, Parlak, Pane, Mandahiling, Tamihang, Barus, dan Lampung.

Sementara di Kalimantan disebut Kapuhas, Kalingan, Sampit, Kuta-Lingga, Kuta-Waringin, Sambas, Lawai, Kadangdangan, Landa, Samedang, Sedu, Buruneng, Saludung, Pasir, Baritu, Tanjung Kute, dan Tanjung Puri.

”Selain itu ada negara-negara di Semenanjung Malaya (Malaysia dan Singapura) dan wilayah timur Pulau Jawa,” imbuh Ninny.

Puluhan wilayah tersebut disebut kerap mengirim utusan ke Wilwatikta, ibu kota Majapahit. Kedatangan mereka berkaitan dengan kepentingan diplomasi maupun perdagangan.

”Daerah-daerah di Nusantara itu bukan tidak mungkin merupakan kerajaan kecil yang menjalin hubungan dagang rempah dengan Majapahit,” ungkapnya.

Hubungan Majapahit dengan Tiongkok juga tercatat dalam Ming-Shih, sejarah Dinasti Ming. Catatan tersebut menunjukkan adanya hubungan diplomatik dan perdagangan antara Majapahit dan Tiongkok pada 1403 hingga 1499.

Dalam hubungan tersebut, Majapahit mengirim upeti berupa hasil bumi lokal. Beberapa kali, kiriman juga berupa kuda, rusa putih, merak, dan cula badak.

”Perdagangan dengan cara upeti ini telah kembali ke status normalnya sebagai bentuk pertukaran komersial,” tutur Ninny.

Hubungan tersebut tidak hanya berlangsung melalui pengiriman utusan. Keberadaan komunitas Tionghoa di ibu kota Majapahit juga dicatat Ma Huan ketika mengunjungi Majapahit.

Anggota rombongan Laksamana Cheng Ho tersebut menyebut terdapat sekitar 200 hingga 300 keluarga Tionghoa yang tinggal di Wilwatikta. Majapahit juga tercatat beberapa kali mengirim utusan ke Tiongkok.

Jaringan diplomasi Majapahit juga menjangkau Jepang dan Korea. Jejaknya terdokumentasi dalam catatan Kerajaan Ryukyu di Jepang.

Pada masa pemerintahan Ratu Dyah Suhita, Majapahit menerima surat permohonan dari Raja Ryukyu. Isi surat tersebut antara lain meminta izin agar kapal dan rombongan Ryukyu dapat melakukan perdagangan di pelabuhan Jawa.

Raja Ryukyu juga berharap hubungan jangka panjang dengan Majapahit dapat terjalin.

”Ada enam surat yang dilayangkan kepada Majapahit antara tahun 1430-1442. Di masa itu, mereka berlayar ke Jawa dengan kapal berisi porselen, tekstil, dan senjata,” jelas Ninny.

Catatan-catatan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Majapahit dengan wilayah di luar Nusantara tidak hanya berkaitan dengan urusan politik. Diplomasi berjalan beriringan dengan aktivitas perdagangan, pertukaran barang, serta mobilitas orang dari berbagai wilayah.

Jejaring tersebut menempatkan Wilwatikta sebagai salah satu titik pertemuan hubungan regional Asia pada masa Majapahit. (adi/ris)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : BPK Wilayah Jatim
mojokerto BPK Wilayah Jatim kerajaan majapahit